26 July 2010

Pelajaran berharga dari Bis P100

Seperti pagi-pagi sebelumnya,
aku berangkat ke kampus,
menaiki Bis P100, jurusan Senen-Cikokol..

Tak berapa lama,
ada seorang pengamen yang ikut menaiki Bis tersebut,
ketika ia mulai bernyanyi,
aku serasa ingin menutup kuping dan ingin agar Ia cepat-cepat selesai bernyanyi..
Suaranya fals dimana-mana, tapi aneh, orang itu sangat Pede,
sejenak aku merasa sangat terganggu,
tetapi akhirnya aku dapat tertawa mendengarnya bernyanyi..

Pikiranku yang usil ingin mengandaikan,
jika masalah yang kita hadapi itu seperti pengamen yang suaranya fals..
dengan pedenya tampil dalam hidup kita..
Tetapi dalam menanggapinya,
kita mempunyai 2 pilihan..
1. merasa terganggu,dan akhirnya membuat hidup kita kacau seharian..atau
2. melihatnya dari sisi lain yang unik,sehingga kita dapat menemukan pelajaran, dan akhirnya dapat menertawakan masalah itu..

Pelajaran yang kedua:
ketika seusai kuliah, aku kembali ke Jakarta,
Bis yang kutumpangi itu penuh sesak..
Sampai-sampai kenek nya pun terlihat sangat sibuk..
Tapi dengan penuhnya bis itu,
berarti hari ini supir dan kenek bis itu mendapatkan banyak pemasukan..

Aku mulai menghubungkannya dengan masalah yang ada di hidupku,
terkadang pikiranku penuh sesak oleh masalah,
sehingga terasa ruwet dan ingin pecah..
Tapi satu hal yang aku dapatkan adalah,
ketika masalah itu datang,
Ia selalu menyisakan sesuatu yang berarti untukku..
yang selau baru bisa kulihat setelah rasa ruwet,sakit, dan pedihnya terlewati..
seperti seorang kenek yang menghitung uang yang didapat,
setelah Ia sampai di halte terakhir,dan semua penumpang turun
Ia tercengang, betapa "keruwetan" itu membuahkan hasil yang sangat besar jumlahnya..


07 Juni 2009
21:04

0 comments: