12 November 2018

Part 3




Adia Prisha Odel,
Hadiah penuh cinta pemberian Tuhan.

Ia memilih saya menjadi ibunya.
Mengijinkan saya merasakan kebahagiaan yang dibawa olehnya.
Percaya bahwa saya dapat membantu memenuhi misinya di dunia.
Mengubah banyak hal dalam hidup dan cara pandang.

Sebulan pertama bersamanya,
menyadarkan saya,
Hidup kini bukan hanya untuk diri sendiri,
Ada makhluk kecil yang menggantungkan hidupnya pada saya.
Membuat saya mengalahkan diri berkali-kali,
Mengikis keegoisan,
Dan dengan sukarela mengorbankan banyak hal untuknya.

Sebulan pertama menyadarkan saya,
Menjadi ibu adalah pekerjaan tanpa jeda, tanpa libur.
Lelah yang harus dinikmati dan disyukuri,
Karena waktu mendadak bergulir begitu cepat ketika ia ada dalam dekapan.

Sebulan pertama,
Membawa saya ke masa lalu,
menyadarkan saya,
Betapa di suatu ketika,
Saya juga si makhluk kecil yang tidak berdaya.
Yang dicintai dengan sangat oleh orang tua saya.
Membuat saya ingin menyalurkan begitu banyak kasih juga kepadanya.
Menjadi setangguh orang tua saya.

Sebulan pertama menyadarkan saya,
Betapa saya beruntung
Dikelilingi orang-orang baik,
yang selalu siap membantu.
Menjadi penyangga dan alasan utama saya dapat tetap bahagia.

Sebulan pertama,
Begitu banyak keberuntungan
Yang saya yakini muncul dari hati yang terus bersyukur.
Membuat saya merasa begitu diberkati.

Menyadarkan saya,
Hal terbaik yang saya dapatkan dalam hidup,
Seringkali bukan hasil usaha saya sendiri,
Melainkan hanya hadiah penuh cinta pemberian dari Sang Pencipta Semesta.

Adia Prisha Odel.

06 November 2018

Part 2

Hari perkiraan lahir saya tanggal 2 Oktober.

Mendekati masa lahiran,
ketakutan dan proyeksi saya tentang rasa sakit pada proses lahiran,
sama sekali sirna.
Saya sendiri bingung karena tidak merasa takut,
Saya justru semangat dan penasaran,
akan seperti apa rasanya melahirkan.

Saya mulai merasa ada perubahan di tubuh saya pada minggu ke 37,
Seperti agak tertekan ke bagian bawah dan agak ngilu.
kata Bidan, janin saya sudah turun panggul, dan sudah terkunci di jalan lahir,
tinggal tunggu waktu lahirnya saja.

Mendekati hari perkiraan lahir,
Orang tua saya terutama mama, terlihat khawatir.
Hampir setiap hari menanyakan, "Udah ada tanda-tanda mau lahiran?"
Saya menjawab dengan santai, "Belum, tenang aja."
Saya tahu, hari perkiraan lahir tidak selalu tepat.
Dan saya percaya bayi saya mempunyai waktu yang tepat untuk keluar melihat dunia.

27 September
Saya mulai merasakan kontraksi dan keluar flek darah.
Orang tua saya khawatir dan menyuruh saya untuk segera ke rumah sakit,
tapi berbekal pengetahuan dari @bidankita,
saya tenang, karena mengetahui flek adalah hal yang wajar ketika mendekati proses lahiran,
sehingga tidak perlu terburu-buru ke rumah sakit.

28 September
jadwal kontrol saya ke Bidan.
Kondisi janin di cek dan masih bagus.
Ibu bidan bilang, "Duh, saya gemes kenapa gak keluar-keluar, padahal udah tinggal keluar aja loh ini anaknya, udah masuk panggul n udah kekunci"
Saya senyum, saya tahu janin saya punya waktunya sendiri.

1 Oktober
Saya merasa kontraksi semakin intens.
Saya mengecek dengan aplikasi "Kontraksi Nyaman"
Mulai dari subuh hingga tengah malam,
saya merasa kontraksi berdurasi sekitar 45 detik sampai 1 menit,
dengan selang waktu 7 sampai 10 menit sekali.
Tapi rasanya masih belum teratur dan masih bisa saya tahan.

2 Oktober
Pukul 09.00, jadwal kontrol saya ke Bidan lagi karena bertepatan dengan HPL,
Kali ini saya dibawa ke ruang bersalin,
di CTG (untuk mengontrol denyut jantung janin) dan cek dalam.
Kata suster sekaligus bidan di ruang bersalin itu, saya sudah pembukaan 2.
Saya diminta untuk masuk rumah sakit karena hasil CTG dikatakan kurang memuaskan.
Saya dan suami ngotot untuk pulang, karena hasil CTG sejauh yang kami lihat masih oke,
dan pembukaan pun masih kecil.
Akhirnya saya menandatangani surat penolakan rawat inap dari RS.

Sepulang dari RS, saya merasa kontraksi semakin sering dan gerakan janin saya semakin aktif.
Dalam hati, saya merasa waktunya sudah dekat untuk berjumpa dengan bayi saya.

Malam hari pukul 21.00, saat suami saya pulang kerja,
saya mengajak ke RS untuk mengecek sudah pembukaan berapa.
Saat itu, kontraksi saya rata-rata berdurasi 45 detik - 1 menit,
dengan selang waktu 4 sampai 6 menit sekali.
Tetapi saat di cek, ternyata masih pembukaan 3.
Lagi-lagi suster menyarankan agar saya tinggal di RS.
Saya mulai galau, karena saya merasa waktunya sudah dekat, dan akan merepotkan jika bulak balik dari rumah ke RS, tapi saya juga merasa tidak mau masuk RS kalau bukaan masih 3.
Saya selalu mengafirmasi diri saya sendiri, saya masuk RS kalau sudah bukaan 5 atau 6.
Saya merasa suster pun agak memainkan emosi saya, dengan bilang "Ibu jangan egois, mendingan nginep aja disini, daripada bayinya kenapa-kenapa." Huft. Saya galau.
Untung suami saya konsisten.
Suami saya tegas pada pendirian kami di awal (tidak mau masuk RS kalau pembukaan masih kecil). Dia mengajak saya pulang, dan bersedia mengantar saya kembali ke RS, kalau tengah malam semakin sakit.
Saya setuju, akhirnya kami pulang.
Dan saya menandatangani surat penolakan rawat inap dari RS ((LAGI)).

Sesampainya di rumah, saya tidak bisa tidur.
Kontraksi datang semakin sering.
Kira-kira durasi 1 menit dengan selang waktu 2 sampai 4 menit sekali.
Saya mengajak suami ke RS lagi pukul 2 pagi.

Pukul setengah 3 saya sampai di RS, dan di cek oleh bidan sudah bukaan 5.
Saya pikir, pukul 8 saya akan sudah lahiran.
Saya menghabiskan waktu dari pukul 3 ke pukul 8 dengan tiduran.
Saat kontraksi datang saya bangun, tetapi pada selang interval, saya tidur karena mengantuk.
Tapi saya salah,
dengan tidur, kontraksi saya malah semakin melambat.
Intervalnya semakin lama / jarang.

Pukul 08.00 saya di cek lagi oleh bidan, dan ternyata baru pembukaan 6.
Ibu Bidan bilang, kalau pukul 12.00 nanti di cek kontraksinya masih kurang bagus,
saya akan di alihkan menjadi pasien dokter.

Kira-kira pukul 10.30, suami saya mengajak saya untuk bergerak,
tidak hanya tiduran.
Saya akhirnya bermain birthing ball, dengan suami yang membantu memantau kontraksi saya lewat aplikasi Kontraksi Nyaman.
Kontraksi saya maju begitu cepat saat saya bermain birthing ball.
Dalam 1 jam, kontraksi saya sudah maju dari 4 menit sekali menjadi 2 menit sekali dengan durasi kontraksi selama 1 menit.

Pukul 11.30, saya buru-buru memanggil bidan untuk kembali di cek dalam.
Ternyata sudah bukaan 8,
dan pada saat itu, entah sengaja atau tidak, ketuban saya pecah.

Selebihnya yang saya ingat,
saya diminta untuk menghadap ke kiri dan menahan untuk tidak mengejan karena pembukaannya belum lengkap.
Saya tahu, kalau pembukaan belum lengkap tetapi saya mengejan, akan berakibat fatal karena jalan lahir saya akan bengkak, dan bayi saya malah tidak bisa keluar.
Pikiran saya seketika kacau karena saya merasa janin saya mendorong tubuhnya sendiri untuk keluar, tetapi saya harus menahannya karena pembukaan belum lengkap.

Saat itu saya bilang kepada suami saya kalau saya tidak kuat untuk menahan tidak mengejan.
Saya pun minta ke suster untuk segera di suntik atau di bantu agar pembukaan lengkap dan saya bisa mengejan.
Tetapi suami dan suster / bidan yang menemani saya saat itu menyemangati saya dan mengatakan kalau saya pasti mampu melewatinya.

Tidak berapa lama, ada bidan lain yang masuk ke ruang bersalin dan mengecek.
Ternyata sudah bukaan lengkap.
Para suster dan bidan langsung menyiapkan peralatan untuk lahiran,
dan saya dipersilahkan untuk mengejan.

Tidak ada aba-aba dari bidan,
saya mengikuti ritme tubuh saya sendiri,
Dengan beberapa kali mengejan, lahirlah bayi saya,
yang kami beri nama Adia Prisha Odel.
Adia Prisha artinya hadiah penuh cinta pemberian Tuhan.
Odel merupakan singkatan nama Okta dan angel.

Lega teramat sangat!
Kami (Saya, suami, dan buah hati kami) berhasil melewati proses persalinan ini dengan kerjasama yang indah.

Saya belajar,
untuk melewati proses persalinan yang bebas trauma,
butuh kedisiplinan dan keinginan kuat.
Butuh dukungan dari orang terdekat.
Butuh persiapan mental, fisik, dan spriritual.

Persiapan mental,
Dengan banyak membaca dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi mengenai proses kelahiran,
agar pada akhirnya mengerti segala resiko, keuntungan dan kekurangan atas tindakan yang akan di ambil saat melahirkan.

Persiapan fisik,
Dengan tetap aktif bergerak, berolahraga, melatih pernafasan perut, dan memberdayakan diri.

Persiapan spiritual,
Dengan banyak melakukan afirmasi positif kepada diri sendiri,
mempercayai tubuh yang sempurna yang telah Tuhan angerahkan,
mempercayai bahwa janin saya adalah janin yang jenius dan bisa di ajak berkomunikasi.

Bagi saya,
Proses persalinan adalah proses berdamai dengan diri sendiri dan mengalahkan rasa ego.
Proses kerja sama yang indah antara ayah, ibu dan buah hati kami.
serta proses untuk berteman dengan rasa sakit.
(Karena rasa "sakit" dalam proses persalinan merupakan pertanda baik,
bahwa sudah semakin dekat waktunya untuk bertemu dengan kesayangan)

05 November 2018

Part 1

Belakangan saya selalu merasa kurang.
Seperti ada perasaan harus mengerjakan sesuatu yang belum dikerjakan,
tapi saya pun tidak tahu apa yang harus saya kerjakan.
Padahal saya merasa seluruh pekerjaan sudah dilakukan tuntas semua.
Perasaan "kurang" itu sangat terasa dan membuat hati saya tidak enak.

Sampai di suatu sore,
saya ingat, saya berdoa, saya menyerah dan meminta maaf kepada Tuhan,
karena sering ngotot ingin jalan dengan rencana saya sendiri,
Sore itu, saya meminta Tuhan menunjukkan apa yang harus saya kerjakan.
Saya berserah, meminta Tuhan mengarahkan jalan saya,
karena saya tahu, Pencipta saya pasti tahu tujuan hidup saya,
dan Dia bisa mengarahkan saya agar memenuhi visi hidup saya hingga tak selalu merasa "kurang".

Beberapa waktu setelahnya,
Saya pikir, perasaan "kurang" itu dijawab Tuhan dengan arahan untuk melakukan pekerjaan lain.
Karena ada suatu hal yang melintas di hadapan saya,
dan saya merasa bisa membantu mengerjakan pekerjaan itu.
saya pikir Tuhan menunjukkan jalan untuk membantu pekerjaan itu.
Tapi ternyata bukan.
Bukan pekerjaan itu yang dimaksud.

Ternyata saya hamil.

Agak mengejutkan di awal, karena sebenarnya saya dan pasangan masih ingin menunda 1 tahun lagi,
pertanyaan yang terlontar pertama kali di dokter pun, "Kok bisa, Dok?"
Tapi pada pemeriksaan pertama itu,
saya sudah bisa mendengar suara denyut jantung janin saya,
walaupun umur kehamilan masih sangat muda,
dan saya terharu.
Sungguh ada makhluk hidup dalam perut saya.
Saya ingat doa saya di sore itu, biar kehendak Tuhan yang jadi, bukan lagi kehendak saya.

Di masa awal kehamilan, saya sempat cerita ke beberapa teman, perasaan saya campur aduk,
Saya ragu tentang banyak hal, terutama apa saya bisa menjadi orang tua yang baik.
Saya kasihan dengan anak saya, akan terlahir di dunia yang menurut saya semakin kacau.
Saya ragu, apa saya bisa melewati proses hamil hingga melahirkan (yang pada saat itu di pikiran saya, melahirkan itu sakiiiiiit sekali, saya ingat adegan sinetron-sinetron yang proses melahirkannya sambil teriak-teriak)

Tapi seiring perjalanan kehamilan, mental saya pun dibentuk.

Saya selalu merasa Tuhan berbicara pada saya lewat banyak hal,
Dia memberi penegasan, bahwa kalau Dia yang memberikan pada saya,
Dia juga yang akan memampukan saya.
Dan itu memang sudah terbukti dalam banyak hal di hidup saya.

Banyak kejadian yang saya pikir berat dan tidak mampu saya hadapi,
tapi toh pada akhirnya lewat juga.
Kekuatan di tubuh yang kecil ini, asalnya dari Sang Pencipta.
Maka saya hanya ingin pasrah, sungguh ikut saja maunya Tuhan dalam hidup saya,
membiarkan Dia bekerja melalui saya dengan caraNya yang ajaib.
Memiliki pemahaman seperti itu, membuat saya jauh-jauh-jauh lebih tenang.

Saya beruntung, dalam proses awal kehamilan, saya bertemu dengan akun instagram @bidankita dan bukunya yang berjudul "Bebas Takut Hamil dan Melahirkan".
Akun instagram dan buku ini ditulis oleh Bidan Yessie Aprilia, dan berisi banyak informasi tentang tubuh perempuan, proses kehamilan, dan proses melahirkan.

Lewat bidan Yessie itu pula lah, saya mulai mengenal filosofi Gentle Birth,
dan sungguh ingin menerapkannya dalam proses kelahiran saya.
Saya ingin memiliki proses kelahiran yang nyaman dan tidak menyisakan trauma,
karenanya saya banyak memberdayakan diri,
mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang kehamilan,
agar tidak mudah ditakut-takuti dan dibohongi.

Semakin saya menyerap pengetahuan mengenai hamil dan melahirkan,
Saya semakin disadarkan,
bahwa tubuh saya (tubuh perempuan) diciptakan sangat sempurna untuk melahirkan bayinya,
dan seharusnya masa kehamilan bebas dari keluhan,
karena ibu hamil bukanlah ibu sakit..

Karena bidan Yessi juga lah,
saya dan suami memutuskan untuk mengambil keputusan anti mainstream,
dengan memilih bidan sebagai provider kelahiran saya.
(Yang pada awalnya mendapat banyak tentangan, terutama dari orang tua saya yang pada masa kehamilannya dulu, sangat percaya dengan dokter)
Bukan ingin mengecilkan peranan dokter dan teknologi,
Tapi semata karena saya percaya proses kelahiran adalah proses yang alami,
dan tugas saya adalah mengembalikan proses itu menjadi proses yang alami,
bukan proses yang dipenuhi dengan banyak intervensi medis yang tidak perlu.

Saya belajar mempercayai tubuh saya,
Saya belajar mempercayai janin saya.
Perspektif ini membuat saya merasa bisa berkomunikasi dengan tubuh saya.
Menyuruh otot-otot rileks, meminta rasa sakit di punggung saya hilang,
berbicara dengan janin saya, dan lain-lain.
Perasaan "nyambung" dengan tubuh memberikan pengalaman baru yang menggembirakan untuk saya.

Kalau boleh dipadatkan, hal ini yang saya lakukan saat hamil :
1. Belajar percaya dan berserah dengan jalan Tuhan yang dihadapkan pada saya.
2. Mencari informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang masa hamil dan melahirkan.
3. Makan-Makan-Makan. Semenjak hamil, saya selalu lapar. Sepertinya, hamil ini penuh dengan makanan all you can eat dan es krim. (Tapi mulai 36 minggu, saya mulai diet karbohidrat dan gula). Oh ya, saya juga makan makanan bergizi (yang disiapkan oleh ibu saya). Dia tahu, anaknya tidak doyan sayur, karena itu, selama hamil, ibu saya yang menyiapkan makanan dan memaksa saya untuk makan makanan yang bergizi. "Demi anak," katanya. Setiap hari pasti ada sayur, daging, jus buah, buah potong, kacang hijau dan susu kacang :)
4. Melakukan olahraga renang, hampir rutin 2-3 kali dalam 1 minggu sampai kehamilan saya 9 bulan.
5. Melakukan prenatal yoga (beberapa pose setiap hari) untuk mengurangi sakit punggung dan rasa tidak nyaman lain.
6. Nungging selama 15-20 menit (2 kali dalam sehari) karena janin saya sungsang pada bulan ke 7, dan untungnya sudah normal pada bulan ke 8.
7. Minum air kelapa hijau setiap hari sejak usia kandungan 36 minggu.
8. Mendengarkan CD Hypnobirthing dari Ibu Lanny, sejak usia kandungan 32 minggu. Dan sejak usia kandungan memasuki 36 minggu, saya mendengarkan audio itu dua kali sehari.
9. Cek kandungan secara rutin ke dokter dan ke bidan. Mulai dari 1 bulan 1 kali, sampai seminggu sekali menjelang kelahiran.
10. Tetap mengerjakan kegiatan sehari2 dengan bahagia (tetap naik turun tangga, tetap nyetir sendiri, dll sampai kontraksi dan flek datang).

Pada akhirnya, kehamilan pertama ini,
seperti yang sudah pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya,
merupakan sebuah proses yang akan saya kenang selamanya sebagai perjalanan spiritual,
Untuk lebih berserah dan pasrah kepada Sang Pencipta,
Mempercayai bahwa Ia selalu menyediakan yang terbaik untuk saya,
Dan menikmati semua hal yang dihadapkan kepada saya dengan bahagia.

24 September 2018

:)



Masih teringat hari itu,
Saat saya tak percaya dengan beberapa hasil tes,
Lalu bergegas ke dokter untuk memastikan.

Masih teringat hari itu,
Bagaimana perasaan haru menyelimuti,
saat pertama kali mendengar detak jantungnya.
Menyadari sungguh ada makhluk kecil tumbuh di rahimku.

Masih teringat hari itu,
Bagaimana noraknya,
Saat pertama kali merasakan gerakan halus di perut.
Bukan hanya karena melihat aksinya saja di layar USG.

Masih teringat hari itu,
Bagaimana bahagianya,
Saat pertama kali bisa berinteraksi dengannya,
Seperti dapat balasan ‘tos' dari dalam perut.

Sejak hari itu,
Saya tak pernah lagi sendiri.
Ada dia yang memberi kehangatan kepada saya yang suka kedinginan,
Ada dia yang membuat saya memaksakan diri melakukan hal-hal sehat yang jarang saya lakukan,
Ada dia yang jadi penghibur karena bisa ikutan ngerjain papanya,
Ada dia yang jadi alasan saya bisa lebih kuat dan lebih sabar,
Ada dia yang membuat saya mau belajar lebih banyak lagi untuk memberdayakan diri.

Masih teringat banyak hari manis dalam proses kehamilan ini.
Sebuah proses yang akan saya kenang selamanya sebagai perjalanan spiritual,
Untuk lebih berserah dan pasrah kepada Sang Pencipta,
Mempercayai bahwa Ia selalu menyediakan yang terbaik untuk saya,
Dan menikmati semua hal yang dihadapkan kepada saya dengan bahagia.

Di penghujung proses yang akan segera berakhir,
Saya hanya bisa mengisinya dengan rasa syukur.

Betapa saya sadar, begitu banyak orang baik di sekeliling saya,
Begitu banyak hal baik terjadi pada saya.
Semua kelancaran dan kemudahan,
Pada akhirnya membuat saya semakin yakin,
saya dicintai amat sangat oleh Sang Pemberi Kehidupan,
Yang memberikan hadiah penuh cinta untuk saya.

17 August 2018

Terharu (Part 3) - 3 things

Jadi kemarin ini , saya ikutan main "3 things about you" di IG gitu. Jadi intinya, kalo orang kirim ke saya kata "Hello", saya akan kasi 5 pertanyaan ke mereka, dan kalo mereka udah jawab, saya akan post "3 things about you" nya mereka.

Di antara 5 pertanyaan itu, salah 1 nya adalah pertanyaan "Deskripsikan saya di mata Anda", dan ini adalah beberapa jawabannya yang saya capture.

Terharu.

Betapa saya dikelilingi orang-orang baik :






























:)

Seorang kawan tiba-tiba nyeletuk,
"Dari dulu aku ngerasa kasihan sama kamu, Njel.."
"Lah, kenapa kasian?," jawab saya menahan ketawa.
"Ngga tau kenapa, kayanya sih bebannya dipikul sendirian terlalu banyak, nda tau bener apa salah... Rasanya proses kekuatanmu yang sekarang kamu dapet, melalui cobaan yang nda semua orang bisa lewatin, itu menurutku.."

------

Kali ini saya beneran ketawa.

Lantas kenapa harus kasihan?
Bukannya bagus?
Berarti proses cobaan itu, membentuk saya lebih tahan banting kan?

Saya akan tetap kuat, kawan.
Kekuatan di tubuh yang kecil ini, berasal dari atas.
Berasal dari Sang Penciptanya, Sang Pemberi Kemampuan.

Tenang :)

03 July 2018

......

Pada dasarnya ini tentang kita.
Tentang ketidakmampuan kita menjalin komunikasi yang baik.
Jangan salahkan yang lain ketika semua menjadi buruk.

Kau tahu?
Aku pun ingin bahagia.

Kau harus mengerti,
aku sudah berusaha keras untuk mencintai.
Berdamai dengan penyesalan di masalalu,
dan berusaha bersyukur dengan saat ini.

Kau tahu?
aku berusaha lebih keras dibanding apa yang kau rasa.

Jauh di lubuk hatiku,
Aku ingin kita seperti keluarga normal yang bahagia.
Tapi cinta tak bisa dipaksa,
Ia selalu hilang, terutama saat di kekang.

Aku frustasi,
Aku muak.

Bisakah kau membantuku?
Tak hanya mendesak dan memaksa?

Semakin aku mencoba untuk mencinta,
semakin kau buat dirimu susah untuk dicinta.

Mengapa sangat susah membiarkan cinta tumbuh dalam kebebasan?
Mengapa tak kau buat dirimu mempunyai nilai yang bisa dicinta?

Pernahkah kau mengerti,
segala perbuatanmu yang membuat aku lari darimu.
Pernahkah kau sadari,
bahwa yang aku butuhkan hanyalah sosokmu sebagai suami,
yang membimbing, yang melindungi, yang memimpin,
bukan sebagai orang yang hanya selalu mendesak?
Pernahkah kau mau mengerti sedikit saja perasaanku?

Ahh sudalah.

Barangkali terlalu besar ekspektasiku untuk dapat dipahami
oleh kamu yang selalu mementingkan ego mu.

Itulah sebabnya aku benci kamu.

26 April 2018

Tentang test kepribadian...

Ceritanya kemaren iseng-iseng test kepribadian MBTI, dan lumayan kaget karena hasilnya mendekati. Kayak jadi punya kata-kata untuk mendeskripsikan diri, yang sebenernya udah pernah di deskripsiin dengan kalimat sendiri secara ngasal.

Katanya saya ini tipe nya INTJ (Arsitek). Saya kutip dua bagian yang saya rasa pas banget aja ya,
Keterangan lainnya bisa dicari sendiri di google, hehehehh.

SATU :

"INTJ percaya pada rasionalitas mereka di atas segalanya. Jadi saat mereka tiba pada sebuah kesimpulan, mereka tidak punya alasan untuk meragukan apa yang telah mereka simpulkan. 

Kreativitas, logika, dan percaya diri bersama-sama membentuk seorang INTJ. Mereka bisa berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Figur pemimpin tidak akan menggoyahkan INTJ, begitu juga dengan norma sosial atau tradisi, bagaimanapun populernya hal tersebut. Jika mereka memiliki sebuah ide yang lebih bagus, INTJ akan berdiri melawan setiap orang dan berusaha untuk mengubahnya."

ini kata orang-orang : 









Sejujurnya, saya sering ngerasa sendirian. Punya pendapat yang beda dari orang lain itu melelahkan. Tapi ya itu, di saat segala pemikiran saya udah mencapai kesimpulan dan saya anggep itu bener, disanalah diri saya sendiri gak bisa ngerubah lagi. Saya akan yakinin itu 100% dan akan ngelakuin itu apapun resikonya (karena sulit buat saya untuk ngelakuin hal yang gak sesuai sama hati nurani).

Seringkali salah disalahartiin juga sebagai orang yang keras kepala dan gak peka sama orang lain. Tapi pada akhirnya ketika saya ngejelasin segala embel-embel pemikiran saya, banyak yang berubah jadi setuju dan mendukung jalan yang saya tempuh. Tapi (lagi) sebagai seorang introvert sejati, lebih gampang buat saya untuk terus aja ngelakuin apa yang saya yakinin bener tanpa harus ngejelasin rinci asal muasal pemikiran saya.

Sebenernya ini bukan berarti saya gak terima pemikiran orang lain, kalo menurut saya, orang lain itu masuk akal, tanpa adu mulut, saya bakal terima dengan lapang dada. Itu sebabnya mungkin Tuhan ngirimin orang macem Okta sebagai pendamping hidup saya ya. Yang tanpa sifat arogan, bisa ngejelasin sesuatu dengan masuk akal dan bikin saya sadar kadang ada juga letak salah pikir saya.


DUA:


Terkait gambar yang paling bawah ini ya, bener banget loh.

Saya suka banget mempertanyakan segala hal. Bukan karena cuma iseng, tapi sungguh penasaran.
Kenapa ini harus begini, kenapa itu begitu? Yang saya inget, beberapa kali saya nanyain hal yang gak bisa dijawab sama Bapak / Ibu Pendeta. Terus dulu pas kecil, sering banget dianggep pembangkang atau ngelawan orang tua gara-gara ngejawabin statement mereka yang saya anggep gak berdasar, terus disuruh diem. Katanya saya orang yang ngeyel, yang gak bisa terima kalo dikasi nasihat sama orang tua. Tapi buat saya, ya gimana saya bisa terima kalo rasa penasaran saya belum terjawab, tapi demi gak terjadi perang dunia ke 3, saya nurut untuk diem dengan segala pemikiran yang berkecamuk.

Untuk hal ini, saya nemuin potongan tulisan Mbak Dee Lestari yang paaaasss banget di buku Partikel, saat si Zarah ngelontarin pertanyaan ke Abah nya tentang agama, dan Abahnya malah emosi dan nampar dia.

"Aku pun merasakan luapan amarah dalam hatiku. Mengapa mereka harus meradang karena pertanyaan-pertanyaanku? Seolah-olah semua yang kuucapkan adalah hinaan? Kenapa mereka tidak bisa melihatnya semata-mata sebagai pertanyaan?"

Saya sering banget ngerasa seperti yang ditulis Mbak Dee itu. Kenapa pertanyaan saya gak bisa dianggep sebagai pertanyaan semata? bukan suatu bentuk pembangkangan? 

Masa-masa itu udah lewat sih. Sekarang ini orang tua saya udah kayak temen yang bisa jadi tempat ngobrolin segala sesuatu tanpa ribut-ribut dan marah-marah. Saya pun lebih milih untuk gak terlalu frontal / berdebat sama orang-orang yang gak terlalu penting. Gak mau buang-buang tenaga.

Tapi... yaaa begitulah.

Saya suka tersesat dalam pikiran saya sendiri. Selalu menggali lagi setiap nilai yang saya terima. Saya gak akan bergerak sebelum memastikan saya bisa nerima nilai-nilai itu. Cape? Lumayan.
Tapi seneng sih, saya ngejalanin segala sesuatu yang saya pahamin, gak asal denger kata orang aja, bukan karena ikut-ikutan, tapi saya selalu punya alesan yang jelas ketika ngelakuin sesuatu.

Dan saya perlu tulis disini juga,
Saya bersyukur banget punya partner kaya Okta, yang walopun kadang keliatan gak bisa serius dan selalu ngajak "ribut", ketika dia ngejelasin sesuatu, saya sering terpukau karena menurut saya terlalu bijak. Penjelasannya selalu runut, dan masuk akal, dan paling penting lagi, selalu positif.

Saya bisa bilang, 75% penyebab saya jadi orang yang positif, itu gara-gara dia. Kalo udah mulai negatif, dia kayak tim medis yang dateng untuk cuci otak saya sampe jadi positif lagi. Untuk itu saya betul-betul bersyukur.

19 April 2018

. . . . .

Seorang gadis berjalan dengan langkah gontai.
Ia berusaha sekuat tenaga melambaikan tangan,
kepada orang-orang yang ikut tersenyum melihat topeng senyumnya.

Semakin lama, kakinya semakin susah digerakkan.
Tenaganya semakin menipis.
Pada akhirnya ia kewalahan dan menepi,
dalam gelap malam yang semakin pekat.

Di balik gang sempit yang tak berpenghuni,
tangannya bergetar melepas topengnya.
Air mata tak bisa lagi dibendungnya.
Ia menangis sejadi-jadinya.

Tubuhnya sakit tertusuk dinginnya angin malam yang menyengat,
Sesakit batinnya yang lelah.
Lelah pura-pura tegar,
Lelah pura-pura bahagia.

Mengapa hanya karena mencintai seseorang,
kita bisa terluka sangat dalam?
dan merasa begitu bersedih?

Tolol! Bego!
Ia memaki dirinya sendiri.
Tersesat dalam jalan yang ia anggap sebagai tujuan.

Ia mendekap erat tubuhnya sendiri,
seakan bisa mengurangi rasa sakit hatinya yang tersayat-sayat.

Hanya dalam gelap malam,
ia bisa menumpahkan kesedihannya.
Sebab esok, ketika matahari menunjukkan cahayanya,
Ia akan tetap memakai topeng senyum,
menutupi semua dan berkata "Aku bahagia"
hingga tak ada orang yang tahu betapa perih lukanya.

17 April 2018

Percakapan Random

"Biasa kalo hubungan udah lama, orang baru yang dateng itu lebih menarik"

"Aku bisa professional untuk urusan itu"

"Emang gak sabaran anaknya"

"Bener kata kamu, dia egoissss. Banget."

"Apapun yang dia omongin, kenyataannya kita nilai dari actionnya kan?

"Arrrggghhh kok aku jadi kesel ya.."

"Kenapa dia bertahan?"

"Tuh kan, aku gak bisa banget egois, mikirin perasaan orang mulu, tolol emang"

"Aku itu susah buka hati buat orang, sekalinya kebuka, disakitin, ya itu ribet pulihnya"

"They are my biggest support system"

"pasti sakit hati dia kalau aku nyindir gitu"

"Menurut aku ya, kalo udah sayang, gak bisa duain orang lain. Mungkin bisa karena khilaf sesekali, tapi gak akan bisa bertahan selama itu"

"Yang dia utamain, perasaan dia doank, jahat gak kalo gitu?"

"Tapi aku gak bakal bilang kalau aku akan menghilang"

"Entahlah. jadi gampang dijahatin orang. Hahahha"

"Kamu baik banget sih"

"Ingat, sabar aku juga ada batasnya"

"Otak aku juga udah kesel sih, hatinya yang masih ngeyel"

"Jangan ketipu sama tangisannya, buat apa dia nangis tapi gak action?"

"Jawabannya bisa mengerucut cuma satu, dia gak serius sama kamu. gak bener2 sayang"

"Tapi itu lebih sakit sih, ketika kita ada tapi gak dianggap ada"

"AKU LAGI DI KANTOR MASA NANGIS LAGI. YA LOOORD"

"Jahat gak sih kalau aku tetep ketemu dia tapi sebenernya aku siap ninggalin dia kapan aja?"

"Jauh di dalam diri aku, ada ngatain dia, "anjir, menang banyak lu" gitu.."

"Sedia gunting yang banyak, kalo dia iket lagi, gunting lagi, gunting lagi, gunting lagi"

"Aku terima jawaban kamu, tapi kamu harus tau betapa kecewanya aku sama kamu"

"Kamu cuma orang yang terlalu baik, yang mungkin pernah ngerasain sakit yang banget2, then kamu gak mau orang lain ngerasain sakit juga kayak kamu"

"Jahat gak dia yang tau kamu berharap bisa milikin dia seutuhnya juga, tapi dia anggep remeh perasaan kamu?"

"Aku ninggalin dia, berarti aku ninggalin semuanya, apa aku siap?"

"Positifnya, aku bisa jadi orang yang sabar banget"

Terharu (part2)























Tepat di hari Paskah tahun lalu,
ayah saya jatuh dari motor dan mengalami patah tulang kering pada kaki kanannya.
Sejak saat itu, hidup saya berubah.

Ayah saya menjalani proses pemulihan yang tidak sebentar,
Sebagai anak tertua,
saya menggantikan seluruh tanggung jawab ayah saya di toko.
Hal ini sungguh berbeda dengan apa yang saya jalani setiap hari sebagai pegawai kantoran.

Sekedar informasi, ayah saya memiliki usaha di bidang modifikasi mobil.
Saya, seorang wanita berperawakan kecil, yang sebelumnya sangat tidak paham dengan dunia otomotif, sekarang seperti dijerumuskan seketika untuk berada di dalam dunia itu.
Pada awalnya, saya kelabakan ketika ada customer yang bertanya, saya tidak tahu harga yang harus saya berikan, saya tidak mengerti solusi apa yang harus saya sampaikan pada customer, beberapa kali saya juga terpaksa berinteraksi dengan bapak-bapak paruh baya yang genit, calo-calo yang kurang pendidikan, yang terkadang berbicara kasar dan sembarangan.
Saya juga dituntut untuk bisa selalu mengambil keputusan yang terbaik untuk semua pegawai saya.

Saat kecelakaan tersebut, ayah saya tidak menggunakan asuransi apapun,
jadi seluruh pengobatan dibayarkan menggunakan kartu kredit dan untungnya ada sebagian bantuan dari teman-teman ayah.
Tagihan kartu kredit yang mulai berdatangan, di bulan-bulan setelah operasi ayah,
membuat saya semakin tertekan.

Saya sangat percaya Tuhan yang mengatur semuanya.
Dan di dalam perjalanan saya pun, saya merasakan Tuhan sudah merancang kehidupan saya sedemikian rupa, sehingga pada saat ada kejadian itu, saya diberi kesempatan untuk bisa membantu ayah saya, membantu keluarga saya.
Tapi tekanan pekerjaan yang begitu besar setelah beberapa bulan, berhasil membuat saya down.

Saya pernah berdoa kepada Tuhan untuk meminta kesabaran menghadapi customer,
tapi yang saya hadapi kemudian adalah customer "gila"yang memaki saya dengan nama-nama binatang hanya untuk menutupi kesalahannya.
Saya pernah berdoa meminta kebijaksanaan untuk mengatur anak buah,
tapi kemudian yang saya dapati adalah salah satu anak buah kepercayaan ayah saya ketahuan tidak jujur, dan saya tidak bisa tidur memikirkan langkah apa yang harus saya ambil yang terbaik untuk semua.
Saya berdoa, dijawab dengan cepat, tapi dijawab dengan hal yang bertolak belakang.
Jujur, saya jadi takut untuk berdoa.

Saya ingat, di suatu hari Sabtu di bulan Agustus, saya tidak tahan lagi.
Saya menangis dan mengeluh pada suami saya.
Saya mengutarakan padanya bahwa saya kesulitan untuk bersyukur, saya jenuh, dan tidak ingin melanjutkan semua ini lagi.
Saya ingin lari, tapi saya tahu saya tidak bisa dan tidak boleh lari.
Saya tahu saya harus menghadapi ini semua dan tetap tegar untuk keluarga saya, tapi saya lelah.
Dan karena semua itu, saya marah, saya kecewa dengan diri saya sendiri.
Saya menghabiskan hari Sabtu saya dengan murung.

Hari Minggu,
Seperti biasa, saya kebaktian sore di gereja.
Saat itu Pak Pendeta berkotbah, intinya tentang mengingatkan umatnya untuk tetap setia dengan kehendak Tuhan. Katanya "Kita seringkali bernegosiasi dengan diri sendiri ketika mengikuti Kehendak Tuhan. Seringkali kita hanya mau mengerjakan yang enak-enak saja, jarang ada yang mau "ikut aja, apapun resikonya". Padahal ketika kita setia, Tuhan gak pernah tinggalin kita. Tuhan yang akan siapin jalannya. Tuhan yang memampukan kita"

Di Hari Minggu itu,
Air mata saya tidak bisa saya bendung lagi.
Kata-kata yang keluar dari Pak Pendeta, membuat air mata saya semakin deras.
Betapa saya sangat merasa disayang oleh Sang Pencipta.
Semua pergumulan saya, apa yang saya pikirkan, dijawab dengan baik dalam kotbah itu.
Saya merasa Tuhan menggunakan Bapak Pendeta untuk berbicara khusus kepada saya.
Di hari itu air mata saya tumpah, dan seakan-akan bertanya pada Tuhan, "Tuhan, serius, Tuhan sungguh sayang sama saya sampai menjawab semua pergumulan saya dengan gamblang?"

-----------

Saya mengamuk ketika segala situasi menjadi semakin buruk,
saya tidak bisa berpikir positif lagi,
saya merasa sendirian, saya merasa lemah.

Yang saya lupa,
Tuhan dengan segala kekuatannya, adalah Tuhan yang gak akan pernah membiarkan saya jalan sendirian.
Dia, Sang Pencipta, Sang Sumber Daya, Dia yang akan selalu menguatkan saya melewati apapun yang Dia ijinkan terjadi dalam kehidupan saya.

Pada akhirnya saya yakin, lewat segala masalah,
Tuhan ingin membentuk saya dengan caraNya sendiri.
Mengasah saya lebih tajam lagi.
Menempa saya agar lebih kuat.

Sekali lagi, saya diingatkan untuk berserah.
Mengikuti apapun jalan yang Tuhan kehendaki saya lakukan.
Bagaimanapun saya berusaha menghindar,
Jika Tuhan sudah berkehendak, mau tidak mau saya harus hadapi.
Memang berat, memang tak mudah,
tapi hidup adalah tentang menghadapi, bukan selalu menghindar.

Di hari minggu yang tidak pernah saya lupakan itu,
saya ingat, saya pulang dengan harapan dan semangat yang baru.
Tuhan selalu tahu cara membuat saya kembali tersenyum.

15 January 2018

Cepet-cepet-cepet

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menulis status di Facebook saya :

"Betapa harapan "semoga bisa selalu bersyukur dan bahagia selamanya" lebih enak diterima dibanding ucapan cepet dapet jodoh, cepet dapet calon suami/istri, cepet nikah, cepet dapet momongan dan cepet-cepet-cepet yang lainnya yg belum tentu dipengenin sama penerima harapannya. Lagian gak usah cepet-cepet-cepet lah, yang penting ngejalaninnya bisa sambil bersyukur n bahagia aja udah lebih dari cukup. Percaya kan semua indah pada waktunya?"

Saya merasa heran, mengapa sebagian besar orang melihat sebuah kesendirian itu sebagai sesuatu yang aneh, sehingga harus selalu di doakan "semoga cepet dapet jodoh".
Ya, kalau memang yang di doakan ingin cepat dapat jodoh, doanya sangat baik diterima.
Tapi kalau yang didoakan sebenarnya lebih ingin sendiri, kenapa harus orang lain yang repot? 
Itu kan pilihan hidup.
Biasanya kalimat harapan tersebut ada buntutnya, "Gak usah terlalu pemilih lah", "Kamu harus lebih macho / feminim sedikit donk", dan nasihat-nasihat lainnya, yang biasa diucapkan dengan sangat seru oleh orang lain. Yang biasanya bikin yang denger jadi pengen cepet-cepet kabur.

Hampir sama ketika ada pasangan yang sudah berpacaran lama, tapi belum menikah, biasanya akan bermunculan pertanyaan "Kapan nikah?", "Semoga cepet nikah ya.." Dsb.
Kalau denger pertanyaan seperti itu, rasa-rasanya saya ingin balik tanya, 
kenapa harus cepet-cepet kalau belum siap?
Bagi saya, memasuki masa pernikahan harus dipikirkan dengan matang,
karena ketika sudah melangkah, tidak ada jalan untuk kembali.
Kita harus bersama dengan orang yang sama seumur hidup dan setia pada komitmen yang dibuat.

Kalau pada masa-masa bahagia, tentu saja semua terlihat mudah dan menyenangkan.
Tapi pada saat-saat kritis, biasanya keputusan yang diambil karena tidak dipikirkan dengan matang,
berbuntut pada ketidaksetiaan kita pada konsekuensi dari keputusan itu.
Kita mudah berpikir untuk lari dari segala tanggung jawab,
berharap waktu dapat diulang, 
dan mencari jalan keluar yang paling gampang, yaitu kabur.

Kalau sudah seperti ini, 
apa orang yang bilang "cepet-cepet-cepet" itu akan datang memberi bantuan?

Hal yang lain berlaku pada ucapan "cepet dapet momongan ya..", "kapan nih punya ade lagi?", semoga cepet-cepet-cepet dan kapan-kapan-kapan lain yang gak ada habisnya.

Mengutip kalimat teman saya, Mariska Vergina, beliau menulis begini, 
"Saya kira kecepatan masing-masing orang dalam mencapai tahap tersebut tidak serta-merta berbanding lurus dengan kebahagiaan seseorang."

Saya sangat setuju.

Yang penting bagi saya bukan cepat / lambatnya sesuatu,
Tetapi bagaimana saya bisa selalu bersyukur,
dan bisa menjalani setiap tahap dengan bahagia.

Dunia memang penuh dengan orang yang suka menghakimi,
orang-orang yang menganggap cara hidupnya paling tepat.
Mereka pikir, cara hidupnya pasti sesuai dengan kita,
tanpa melihat latar belakang dan kondisi kita.

Untuk orang-orang seperti ini,
yang kita butuhkan hanya sebanyak-banyaknya stok senyum dan stok kata "iya"
Biarkan mereka juga merasa sedikit bahagia karena sudah merasa bisa menasihati,
memberikan solusi dan saran yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan pasti juga tidak kita minta. :)

14 January 2018

Konsekuensi

Seorang sahabat mengatakan pada saya.
"Gua seneng cerita sama lu. Gua seneng punya temen kaya lu. Lu gak pernah nge-judge, Lu gak mencampuri urusan gua. Kalo lu gak setuju, lu bilang, tapi toh kalo pada akhirnya gua gak ngelakuin yang lu bilang, lu support gua... "

Saya buru-buru mengkoreksi, "Emm.. gak sih, aku gak support kalo emang aku gak setuju..."

Dia melanjutkan, "Iya, bukan yang support kayak mendukung gitu loh, tapi kamu itu menghargai. Menghargai keputusan yang pada akhirnya aku ambil."

Saya mengangguk kecil dan meneguk es teh manis di warteg sore itu.

-------

Berbicara tentang menghargai,
Saya merasa, yang paling tahu tentang diri sahabat saya
adalah sahabat saya sendiri, bukan saya, bukan orang lain.

Maka ketika sahabat saya akan mengambil keputusan,
Saya biasanya hanya mengajak berpikir.
Mencari penyebab yang "sebenar-benarnya" bukan hanya yang "terasa / terlihat",
Lalu mengemukakan konsekuensi logis (biasanya yang paling buruk dari semua konsekuensi yang ada) yang saya pikir akan terjadi akibat tindakannya itu.

Tujuannya bukan mau menakut-nakuti,
tapi saya tidak mau orang-orang terdekat saya jadi banci,
yang mau mengambil keputusan / tindakan,
tapi pada akhirnya lari / tidak kuat ketika menanggung konsekuensinya.

Silahkan tanya ke beberapa orang dekat saya,
bahwa saya tidak cukup ahli untuk berpura-pura baik,
atau kalau boleh dibilang,
saya memang tidak mau mengekang lidah saya untuk hanya mengeluarkan kalimat yang baik-baik saja.

Kalau menurut saya tidak baik, ya tidak baik.
Kalau saya tidak suka, ya tidak suka.

Seringkali teman saya tersentak,
karena saya berbicara cukup "to the point" tanpa basa basi ke akar masalah.
Menurut beberapa teman, omongan-omongan "nyelekit" saya terngiang-ngiang,
karena biasanya memang benar.

Pada akhirnya,
ketika sampai pada tahap orang-orang dekat saya mengambil keputusan untuk dirinya sendiri,
saya yakin dengan sangat,
keputusan itu pun diambil berdasarkan pengalaman dan perasaannya selama ini,
yang mungkin juga tak pernah saya rasakan.

Kalau mereka yakin keputusan yang akan diambil dapat menyelesaikan masalah "yang sebenarnya",
dan siap dengan segala konsekuensinya, ya silahkan lakukan.
Sebagai pihak luar, saya hanya bisa memberikan saran.
Apa hak saya untuk melarang atau mencampuri urusannya?

Menurut saya, segala keputusan yang diambil,
harusnya memang datang dari kesadaran dalam diri sendiri,
bukan karena saya, atau paksaan orang lain.
Agar keputusan itu dapat setia dijalani dengan baik berikut semua konsekuensinya.
Selama-lamanya.

-----

Oh ya,
Tentang sahabat yang saya ceritakan di awal,
Saya juga sangat bersyukur bisa bertemu beliau.

Di antara banyak orang munafik,
yang sibuk menutupi kelemahan dan lukanya,
Dia datang membawa kejujuran.

Jauh dari kata munafik,
sangat apa adanya.

10 January 2018

Terharu (: