"Saya memang tidak menghargai. Sangat tidak menghargai. Sangat tidak menghargai"
Kalimat itu seperti radio tape rusak yang berdengung di kepala saya.
Memang sudah lama saya merasakan.
Tapi ternyata belum benar-benar siap kalau kalimat itu tiba-tiba diutarakan di hadapan saya dan berulang-ulang.
Saya memilih berjalan keluar.
Menghempaskan seluruh drama ironis yang selama ini menghantui.
Mengakhiri, bukan berarti lari dan menyerah pada emosi.
Mengakhiri, karena saya yakin tak akan ada lagi hal baik.
Saya memilih berjalan keluar.
untuk tetap konsisten, bahwa saya ingin berlaku baik.
sebagai bentuk protes bahwa saya tidak mau kalah dengan ketidakadilan.
sebagai gugatan pribadi atas paradigma bahwa yang kuat harus selalu menang.
Pada akhirnya saya memilih berjalan keluar, untuk menghargai diri saya sendiri.
untuk menyelamatkannya dari rasa sakit.
Karena penghargaan itu tidak pernah ada disana.
Memaafkan tapi tidak melupakan.
Selamanya akan saya ingat.
Setelah semua berlalu,
saya menemukan kedamaian yang tidak terperi.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba memenuhi seluruh rongga dada.
Lega.
Bahagia.
Sangat Bahagia.
Saya bertemu dengan diri saya sendiri,
20 December 2014
15 December 2014
Kepada Anda yang terhormat!
Serpihan hati itu kembali saya rangkai.
Berulang kali saya gumamkan, bahwa saya harus tegar.
Tapi kali ini saya lemah dan tenggelam.
Saya benci pada ketidaksempurnaan,
dan itu termasuk benci pada Anda,
si penghancur impian.
Anda perlu tahu, bukan nilai yang saya tuju.
Cara Anda memperlakukan saya, itu yang tidak dapat saya terima.
Saya bergerak menyasar target yang jelas.
Seluruh tenaga saya kerahkan untuk mendekati target itu.
Berusaha lebih keras, jauh dari yang Anda pikirkan.
Karena kesempurnaan itu yang selalu ingin saya capai.
Kaki saya sudah melewati target yang Anda inginkan,
yang pada awalnya saya rasa mustahil.
Lalu Anda datang, dan menggeser target itu.
Jauh!
Justru di titik penghabisan saya.
Disaat saya tak punya waktu lagi
Dan target itu kini tak bisa lagi saya gapai.
Hai pecundang,
Betapa saya benci Anda!
Anda panik, saya maklumi.
Anda membuat semua hal berbelit, saya mengerti.
Tapi jika Anda menghancurkan impian saya, saya tidak akan bisa terima.
Sampai kapanpun.
Kecil, tapi berarti.
Ini jadi pelajaran untuk saya,
bahwa tak perlu percaya pada nilai.
Diri terlalu berharga untuk dinilai pada selembar kertas
Dan satu lagi.
Anda sangat tidak patut saya hormati!
Oh tapi jangan khawatir,
Saya tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh Anda.
Saya akan tetap kuat.
Lebih kuat dari usaha Anda menghancurkan saya.
Berulang kali saya gumamkan, bahwa saya harus tegar.
Tapi kali ini saya lemah dan tenggelam.
Saya benci pada ketidaksempurnaan,
dan itu termasuk benci pada Anda,
si penghancur impian.
Anda perlu tahu, bukan nilai yang saya tuju.
Cara Anda memperlakukan saya, itu yang tidak dapat saya terima.
Saya bergerak menyasar target yang jelas.
Seluruh tenaga saya kerahkan untuk mendekati target itu.
Berusaha lebih keras, jauh dari yang Anda pikirkan.
Karena kesempurnaan itu yang selalu ingin saya capai.
Kaki saya sudah melewati target yang Anda inginkan,
yang pada awalnya saya rasa mustahil.
Lalu Anda datang, dan menggeser target itu.
Jauh!
Justru di titik penghabisan saya.
Disaat saya tak punya waktu lagi
Dan target itu kini tak bisa lagi saya gapai.
Hai pecundang,
Betapa saya benci Anda!
Anda panik, saya maklumi.
Anda membuat semua hal berbelit, saya mengerti.
Tapi jika Anda menghancurkan impian saya, saya tidak akan bisa terima.
Sampai kapanpun.
Kecil, tapi berarti.
Ini jadi pelajaran untuk saya,
bahwa tak perlu percaya pada nilai.
Diri terlalu berharga untuk dinilai pada selembar kertas
Dan satu lagi.
Anda sangat tidak patut saya hormati!
Oh tapi jangan khawatir,
Saya tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh Anda.
Saya akan tetap kuat.
Lebih kuat dari usaha Anda menghancurkan saya.
28 November 2014
Impian
Gugatan dalam hati terus meracau.
Membuat kebisingan akut,
hingga saya krisis hening.
Tenggelam dalam timbunan mimpi yang belum mewujud.
Masuk ke dalam kepekatan pikir yang kelam.
Apa yang bisa disebut berhasil?
Bagaimana jika ternyata jalan itu belum terarah?
dan pengagungan itu hampa makna?
Maka saya berjalan sendiri.
Limbung.
Memungut serpihan harapan yang tercecer,
sambil memakai topeng.
23 November 2014
Hadiah terindah untuk saya
Menghabiskan waktu dengan keluarga, setelah sekian lama terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan urusan pribadi, semakin menyadarkan saya bahwa waktu begitu berharga.
Papa yang dulu sering menggendong saya tinggi-tinggi di bahunya ketika saya merengek karena kelelahan, kini tidak sekuat dulu lagi. Raut wajahnya lelah dan rambutnya mulai banyak putih. Papa yang dulu selalu jadi sandaran, kini di negeri asing, bersandar pada adik saya yang mengerti bahasa asing itu.
Di rambut mama mulai terlihat uban, meski tidak sebanyak papa. Mama sering mengulang-ulang pembicaraan, seolah mama lupa kalau itu sudah pernah dikatakan.
Oma lebih-lebih. Oma yang selalu kelihatan segar, sekarang rambutnya sudah memutih semua, dan sebelum pergi, kesehatan oma menurun, sehingga harus mengurus asuransi kesehatan untuk perjalanan. Oma yang selalu semangat jalan-jalan, kini beberapa kali harus mencari tongkat karena kakinya sakit.
Menyedihkan, melihat orang-orang yang kita sayangi, bertambah tua dan rapuh.
Tapi walaupun begitu, kasih mereka tidak pernah berhenti untuk saya. Papa masih mencari nafkah untuk keluarga, kerja keras agar keluarganya bisa memiliki & merasakan hal-hal yang menyenangkan.
Mama masih selalu bangun setiap pagi untuk membuatkan bekal untuk anak-anaknya, agar anaknya selalu makan makanan yang sehat.
Papa Mama sangat mencintai saya. Saya merasa Tuhan mencintai saya lewat mereka. Tulus. Tanpa pamrih.
Papa yang dulu sering menggendong saya tinggi-tinggi di bahunya ketika saya merengek karena kelelahan, kini tidak sekuat dulu lagi. Raut wajahnya lelah dan rambutnya mulai banyak putih. Papa yang dulu selalu jadi sandaran, kini di negeri asing, bersandar pada adik saya yang mengerti bahasa asing itu.
Di rambut mama mulai terlihat uban, meski tidak sebanyak papa. Mama sering mengulang-ulang pembicaraan, seolah mama lupa kalau itu sudah pernah dikatakan.
Oma lebih-lebih. Oma yang selalu kelihatan segar, sekarang rambutnya sudah memutih semua, dan sebelum pergi, kesehatan oma menurun, sehingga harus mengurus asuransi kesehatan untuk perjalanan. Oma yang selalu semangat jalan-jalan, kini beberapa kali harus mencari tongkat karena kakinya sakit.
Menyedihkan, melihat orang-orang yang kita sayangi, bertambah tua dan rapuh.
Tapi walaupun begitu, kasih mereka tidak pernah berhenti untuk saya. Papa masih mencari nafkah untuk keluarga, kerja keras agar keluarganya bisa memiliki & merasakan hal-hal yang menyenangkan.
Mama masih selalu bangun setiap pagi untuk membuatkan bekal untuk anak-anaknya, agar anaknya selalu makan makanan yang sehat.
Papa Mama sangat mencintai saya. Saya merasa Tuhan mencintai saya lewat mereka. Tulus. Tanpa pamrih.
Korea Day 9
Ini akhir dari jalan-jalan ke Korea!
Kita pulang dengan banyak banget koper-koper bawaan. :)
Saya tetap lebih cinta Indonesia.
Orang-orangnya lebih ramah dan alamnya lebih indah.
Tapi pengalaman di Korea juga sesuatu yang indah. Semacam liburan yang bener-bener bikin fresh!
Subscribe to:
Posts (Atom)