05 November 2018

Part 1

Belakangan saya selalu merasa kurang.
Seperti ada perasaan harus mengerjakan sesuatu yang belum dikerjakan,
tapi saya pun tidak tahu apa yang harus saya kerjakan.
Padahal saya merasa seluruh pekerjaan sudah dilakukan tuntas semua.
Perasaan "kurang" itu sangat terasa dan membuat hati saya tidak enak.

Sampai di suatu sore,
saya ingat, saya berdoa, saya menyerah dan meminta maaf kepada Tuhan,
karena sering ngotot ingin jalan dengan rencana saya sendiri,
Sore itu, saya meminta Tuhan menunjukkan apa yang harus saya kerjakan.
Saya berserah, meminta Tuhan mengarahkan jalan saya,
karena saya tahu, Pencipta saya pasti tahu tujuan hidup saya,
dan Dia bisa mengarahkan saya agar memenuhi visi hidup saya hingga tak selalu merasa "kurang".

Beberapa waktu setelahnya,
Saya pikir, perasaan "kurang" itu dijawab Tuhan dengan arahan untuk melakukan pekerjaan lain.
Karena ada suatu hal yang melintas di hadapan saya,
dan saya merasa bisa membantu mengerjakan pekerjaan itu.
saya pikir Tuhan menunjukkan jalan untuk membantu pekerjaan itu.
Tapi ternyata bukan.
Bukan pekerjaan itu yang dimaksud.

Ternyata saya hamil.

Agak mengejutkan di awal, karena sebenarnya saya dan pasangan masih ingin menunda 1 tahun lagi,
pertanyaan yang terlontar pertama kali di dokter pun, "Kok bisa, Dok?"
Tapi pada pemeriksaan pertama itu,
saya sudah bisa mendengar suara denyut jantung janin saya,
walaupun umur kehamilan masih sangat muda,
dan saya terharu.
Sungguh ada makhluk hidup dalam perut saya.
Saya ingat doa saya di sore itu, biar kehendak Tuhan yang jadi, bukan lagi kehendak saya.

Di masa awal kehamilan, saya sempat cerita ke beberapa teman, perasaan saya campur aduk,
Saya ragu tentang banyak hal, terutama apa saya bisa menjadi orang tua yang baik.
Saya kasihan dengan anak saya, akan terlahir di dunia yang menurut saya semakin kacau.
Saya ragu, apa saya bisa melewati proses hamil hingga melahirkan (yang pada saat itu di pikiran saya, melahirkan itu sakiiiiiit sekali, saya ingat adegan sinetron-sinetron yang proses melahirkannya sambil teriak-teriak)

Tapi seiring perjalanan kehamilan, mental saya pun dibentuk.

Saya selalu merasa Tuhan berbicara pada saya lewat banyak hal,
Dia memberi penegasan, bahwa kalau Dia yang memberikan pada saya,
Dia juga yang akan memampukan saya.
Dan itu memang sudah terbukti dalam banyak hal di hidup saya.

Banyak kejadian yang saya pikir berat dan tidak mampu saya hadapi,
tapi toh pada akhirnya lewat juga.
Kekuatan di tubuh yang kecil ini, asalnya dari Sang Pencipta.
Maka saya hanya ingin pasrah, sungguh ikut saja maunya Tuhan dalam hidup saya,
membiarkan Dia bekerja melalui saya dengan caraNya yang ajaib.
Memiliki pemahaman seperti itu, membuat saya jauh-jauh-jauh lebih tenang.

Saya beruntung, dalam proses awal kehamilan, saya bertemu dengan akun instagram @bidankita dan bukunya yang berjudul "Bebas Takut Hamil dan Melahirkan".
Akun instagram dan buku ini ditulis oleh Bidan Yessie Aprilia, dan berisi banyak informasi tentang tubuh perempuan, proses kehamilan, dan proses melahirkan.

Lewat bidan Yessie itu pula lah, saya mulai mengenal filosofi Gentle Birth,
dan sungguh ingin menerapkannya dalam proses kelahiran saya.
Saya ingin memiliki proses kelahiran yang nyaman dan tidak menyisakan trauma,
karenanya saya banyak memberdayakan diri,
mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang kehamilan,
agar tidak mudah ditakut-takuti dan dibohongi.

Semakin saya menyerap pengetahuan mengenai hamil dan melahirkan,
Saya semakin disadarkan,
bahwa tubuh saya (tubuh perempuan) diciptakan sangat sempurna untuk melahirkan bayinya,
dan seharusnya masa kehamilan bebas dari keluhan,
karena ibu hamil bukanlah ibu sakit..

Karena bidan Yessi juga lah,
saya dan suami memutuskan untuk mengambil keputusan anti mainstream,
dengan memilih bidan sebagai provider kelahiran saya.
(Yang pada awalnya mendapat banyak tentangan, terutama dari orang tua saya yang pada masa kehamilannya dulu, sangat percaya dengan dokter)
Bukan ingin mengecilkan peranan dokter dan teknologi,
Tapi semata karena saya percaya proses kelahiran adalah proses yang alami,
dan tugas saya adalah mengembalikan proses itu menjadi proses yang alami,
bukan proses yang dipenuhi dengan banyak intervensi medis yang tidak perlu.

Saya belajar mempercayai tubuh saya,
Saya belajar mempercayai janin saya.
Perspektif ini membuat saya merasa bisa berkomunikasi dengan tubuh saya.
Menyuruh otot-otot rileks, meminta rasa sakit di punggung saya hilang,
berbicara dengan janin saya, dan lain-lain.
Perasaan "nyambung" dengan tubuh memberikan pengalaman baru yang menggembirakan untuk saya.

Kalau boleh dipadatkan, hal ini yang saya lakukan saat hamil :
1. Belajar percaya dan berserah dengan jalan Tuhan yang dihadapkan pada saya.
2. Mencari informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang masa hamil dan melahirkan.
3. Makan-Makan-Makan. Semenjak hamil, saya selalu lapar. Sepertinya, hamil ini penuh dengan makanan all you can eat dan es krim. (Tapi mulai 36 minggu, saya mulai diet karbohidrat dan gula). Oh ya, saya juga makan makanan bergizi (yang disiapkan oleh ibu saya). Dia tahu, anaknya tidak doyan sayur, karena itu, selama hamil, ibu saya yang menyiapkan makanan dan memaksa saya untuk makan makanan yang bergizi. "Demi anak," katanya. Setiap hari pasti ada sayur, daging, jus buah, buah potong, kacang hijau dan susu kacang :)
4. Melakukan olahraga renang, hampir rutin 2-3 kali dalam 1 minggu sampai kehamilan saya 9 bulan.
5. Melakukan prenatal yoga (beberapa pose setiap hari) untuk mengurangi sakit punggung dan rasa tidak nyaman lain.
6. Nungging selama 15-20 menit (2 kali dalam sehari) karena janin saya sungsang pada bulan ke 7, dan untungnya sudah normal pada bulan ke 8.
7. Minum air kelapa hijau setiap hari sejak usia kandungan 36 minggu.
8. Mendengarkan CD Hypnobirthing dari Ibu Lanny, sejak usia kandungan 32 minggu. Dan sejak usia kandungan memasuki 36 minggu, saya mendengarkan audio itu dua kali sehari.
9. Cek kandungan secara rutin ke dokter dan ke bidan. Mulai dari 1 bulan 1 kali, sampai seminggu sekali menjelang kelahiran.
10. Tetap mengerjakan kegiatan sehari2 dengan bahagia (tetap naik turun tangga, tetap nyetir sendiri, dll sampai kontraksi dan flek datang).

Pada akhirnya, kehamilan pertama ini,
seperti yang sudah pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya,
merupakan sebuah proses yang akan saya kenang selamanya sebagai perjalanan spiritual,
Untuk lebih berserah dan pasrah kepada Sang Pencipta,
Mempercayai bahwa Ia selalu menyediakan yang terbaik untuk saya,
Dan menikmati semua hal yang dihadapkan kepada saya dengan bahagia.

0 comments: