24 April 2016

Maukah kamu membantuku?

Suara kicauan burung yang merdu membangunkanku di pagi itu,
Mataku terbuka perlahan.
Tubuhku tergeletak di sebuah hamparan rumput luas beratapkan langit.

Ada damai yang menyesap dengan cepat, seiring udara segar yang kuhirup.
Sungguh, peristiwa menarik napas, yang biasanya kulakukan tanpa sadar,
kini ku resapi dengan lambat.
Satu tarikan napas dapat membawa nikmat yang begitu besar.

Aku duduk bersila,
Kupandangi sekeliling dengan seksama
Mataku menangkap bunga-bunga, kupu-kupu, serta burung-burung yang berterbangan di sekitarku.
Pemandangan yang sungguh sangat langka,
mengingat keseharianku yang berada di kota besar yang bising, sesak, dan selalu penuh polusi.

Wajahku mendekat pada bunga disebelahku,
Begitu indah dan harum. 
Ada di tempat ini sungguh membawa kebahagiaan besar untukku.

Tapi rasa bahagia itu tak berlangsung lama,
tiba-tiba saja ada bunyi mengganggu yang kencang sekali, seperti alarm kebakaran,
dan yang kulihat menjadi begitu kacau.
Alamku terbakar, dimana-mana merah menyala,
aku berteriak ketakutan, 
berlari kesana kemari, mencari sumber air untuk memadamkan api yang tiba-tiba besar itu,
belum sempat kutemukan sumber air itu, tiba-tiba semua sudah habis terbakar.
Aku jatuh lemas dan menangis. 
Perasaan tak berdaya menyelimuti.

Dalam waktu yang sangat singkat pula, 
ada banyak orang berdatangan di tempatku,
Kupikir, aku bisa meminta bantuan mereka untuk mengembalikan alamku yang rusak,
tapi sekeras apapun aku berbicara, mereka seperti tak mendengar, bahkan tak merasakan kehadiranku.

Ternyata orang-orang itu datang, untuk berebut lahan.
Mereka berlomba-lomba menggunakan lahan itu untuk kepentingannya.

Dalam sekejap mata, 
bangunan-bangunan tinggi memenuhi tempat itu.
Penuh sesak.
Tak ada lagi ruang kosong,
tak ada lagi pepohonan,
tak ada lagi bunga-bunga indah,
tak ada lagi kupu-kupu yang memukau,
tak ada lagi burung-burung bersuara merdu.

TIDAAAKK!
Aku berteriak berulang kali dan menangis.

Bunyi bising alarm kembali memekakkan telinga.
Dan kali ini aku terkejut, mendapati diriku tersadar dengan alarm handphone yang sedari tadi berusaha membangunkanku.

Aku mengusap wajahku dan menarik nafas panjang.
Ternyata aku hanya bermimpi.
Kulirik jam dinding di kamarku,
menunjukkan pukul 06.20 WIB.
aku terlambat bangun 20 menit!
Segera aku bergegas untuk ke kantor.
Kembali pada realita, berlomba-lomba di jalan-raya dan tenggelam dalam pekerjaan di gedung kantor yang tinggi. 

Semua nampak berjalan seperti biasa,
Tapi mimpi itu telah mengubahku.
Mimpi itu menyadarkanku akan kebahagiaan dan kedamaian yang begitu besar ketika kita bisa dekat dengan alam.

Aku memang tak dapat melakukan hal besar,
Seperti begitu saja mengubah seluruh gedung-gedung tinggi menjadi hamparan rumput luas dengan tanaman yang indah,
Tapi aku berjanji akan melakukan semampuku untuk mengembalikan kebahagiaan yang tak terkira itu.

Kini, aku menjadi penggiat tanaman.
Aku menanam pohon di rumahku dan mengajak teman-teman lain untuk juga menanam pohon di rumah mereka. 
Minimal satu orang satu pohon, dan meminta mereka untuk meneruskan ajakan tersebut.

Aku berharap kota kita menjadi kota yang ramah lingkungan.
Setidaknya diantara gedung-gedung pencakar langit ini, 
masih ada ruang untuk pohon tumbuh dan burung-burung bernyanyi setiap pagi.

Maukah kamu membantuku?



NB : rasanya aku perlu cerita, beberapa hari yang lalu, dalam mimpi, aku bertemu dengan burung-burung yang pernah membangunkanku, mereka mengucapkan terima kasih untuk kalian yang masih peduli :)

0 comments: