10 May 2011

Ulang Tahun Dia

Hanya tinggal beberapa hari menjelang hari pentingnya. Dia masih tenggelam dalam keraguan yang selalu membuatnya murung. Perempuan itu akhirnya melontarkan tanya.

“Sebenernya apa yang bikin lo masih ragu sih?”

“ hmm..,” pikirannya menelusuri kejadian demi kejadian belakangan ini, seperti sebuah film yang diputar mundur. Ada banyak hal yang sebenarnya tak bisa diungkap pada si perempuan, termasuk alasan utama keraguannya itu.

“Kalo lo sayang sama orang, lo bakal lakuin apa yang lo tau bisa bikin dia seneng ga sih?,” sebuah pertanyaan akhirnya muncul dari bibirnya.

Perempuan itu mengerenyitkan dahi.

“Iyalah, memang kenapa?”

“Di hari ulang tahun,gue selalu berharap ada yang spesial dari dia. Tapi nyatanya beberapa kali ulang tahun gue, dia bahkan ga kasi kado.”

“Hah? Terus tiap ulang tahun lo, jadi dia ngapain? lo berdua ketemu? Pergi makan gitu?”

“Hmm.. iya sih, dia ke rumah gue, kasi selamat. Udah. Pergi makan biasanya sama keluarga gue juga kalo gue lagi ultah.”

“Lo udah coba ngomong sama dia tentang ini?” tanya perempuan itu dengan tatapan yang mulai berubah.

“Udah. Gue udah pernah bilang, kalo gue suka di kasi perhatian yang spesial pas gue ultah, gue suka dikasi kado pas gue ultah, apalagi sama orang yang gue sayang”

“Trus dia bilang apa?” perempuan itu makin penasaran.

“Dia cuma senyum. Entah apa artinya, tapi ulang tahun gue selanjutnya, dia tetep ga kasi gue kado.”

Perempuan itu menganggukan kepala.

“Gue sampe bilang, kalo tiap dia ultah, gue selalu kasi dia kado, untuk nunjukkin betapa berartinya dia buat gue. Kado itu udah gue persiapin dari hari-hari sebelomnya, dan gue ngelakuin ini, untuk nunjukkin juga kalo ritual kasi kado ini, penting buat gue”

“Dia bilang apa pas lo bilang gitu?”

“Dia bilang -ya udah, kalo gitu, pas aku ulang tahun, kamu juga ga perlu kasi kado, aku ga perlu kok kamu kasih-kasih kado“ hening sesaat.

“Gimana sih, gue ngelakuin itu kan karena emang sayang sama dia, kasih kado di hari ulang tahunnya, memang salah? Bukan ngeharusin apa yang udah gue kasih, terus harus dia bales. Tapi gue pengen dia tau, kalo buat gue, ritual kasih kado di hari ulang tahun itu penting. Apa yang gue pengen dia lakuin ke gue, udah gue lakuin ke dia.” ucapnya sambil menahan air mata karena banyak orang yang berlalu lalang di Kantin Kampus siang itu. Perempuan itu mengangguk lagi.

“Eh! Jangan nangis kali,” canda perempuan itu.

Dia langsung menyambut dengan tertawa supaya air matanya tidak jadi keluar, berusaha mengendalikan emosinya lagi.

“Siapa yang nangis cobaa. Idihh..” Mereka tertawa berdua.

“Oh, kirain mau nangis, taunya nggak ya?” Tertawa lagi. Tapi Dia jadi sedih lagi. Butuh beberapa saat tertawa sambil mengendalikan emosi agar tak lagi sedih.

“Ngga laahh, masa nangis? Hahhaha..”

“Abis lo ngomongnya udah kaya mau nangis tau tampangnya tadi,” kata perempuan itu.

“Haha, mana ada..” jawabnya.

Diam.

***

Akhirnya hari penting itu datang juga. Tak terasa, semua berjalan biasa saja. Kali ini Dia tak mengharapkan apa-apa. Sungguh tak mengharapkan apa-apa. Dan nyatanya segala bentuk perhatian berupa ucapan selamat dan kejutan-kejutan kecil dari keluarga dan teman-temannnya menjadi hadiah yang begitu menyenangkan. Betapa dia bersyukur hari itu.

Entah apa yang membuatnya tak peduli lagi dengan apa yang diucapkan pada perempuan itu beberapa hari lalu. Kini ia merasa bebas. Terkadang kita harus percaya bahwa ketika kita tidak menuntut orang lain memperlakukan kita dengan standar yang tinggi, kita akan lebih bersyukur. Dan kebahagiaan yang sesungguhnya tidak didapat dalam bentuk kado, karena nyatanya kehadiran orang-orang yang dikasihi, akan terasa lebih berharga jika dibandingkan kado yang paling mahal sekalipun.

Hidupnya sempurna dengan tak mengharapkan yang berlebihan dari orang lain. Tetapi masih ada yang mengganjal. Ia merasa perlu bertanya pada si Pria, mengapa ia sering tidak melakukan apa yang disukai oleh pasangannya. Ini bukan sekedar masalah kado, tapi lebih daripada itu. Ini masalah perhatian dan masalah usaha untuk menyenangkan pasangannya. Sejenak dia ragu, perlukah semua ini dibahas, mengingat segalanya sudah terasa baik-baik saja.

***

Pagi itu, lewat sehari setelah hari ulang tahunnya. Perempuan bertanya padanya.

“Dia kasih kado ga jadinya?”

Dia menjawab dengan ekspresi datar, “Nggak.”

Perempuan itu langsung bersorak-sorak, “yeeyy, yeeyy gue menang!” sambil mengguncangkan tubuh temannya itu. Ekspresi yang menyedihkan.

Wajar kalau perempuan itu melonjak-lonjak kegirangan, karena hal memberi kado atau tidak, ini telah dijadikan taruhan dengan teman dekatnya, entah apa hadiahnya. Perempuan itu yakin jika si Pria tak akan memberi kado, tetapi teman dekatnya yakin bahwa si Pria pasti akan memberi kado.Tapi ekspresi kegembiraan itu sebenarnya menyakitkan. Dia hanya mampu terdiam dan menunduk ketika berulangkali perempuan itu berteriak “Yes!”. Dia membayangkan si perempuan akan berkata dengan teman dekatnya, “Yes, aku menang, dia ngga kasih kado,” diatas kecewa dan rasa sedih yang ia rasakan.

Hatinya yang seharusnya biasa saja melewati keadaan itu, menjadi hancur. Tak bisa menyalahkan perempuan itu, mungkin sensitif dia saja yang bertambah jika membahas masalah ulang tahun dan segala tetek bengeknya.

***

Sebenarnya sebagai penutup dari hari ulang tahunnya, Dia memutuskan untuk menyelesaikan semuanya. Dia membahas segala hal mengenai perasaanya. Dia tahu, bahwa ini mungkin akan menyinggung, tapi dia pun tahu, masalah ini harus segera dituntaskan. Perasaannya harus dibicarakan, tak boleh lagi ada yang mengganjal diantara hubungan mereka.

Perbincangan dia dengan pria itu, akhirnya sampai kepada titik terang, bahwa si Pria bukanlah orang yang suka dengan ritual memberi atau diberi hadiah. Tapi jawaban ini agaknya tidak memuaskan pertanyaannya, karena apa yang sebenarnya ditanyakan adalah, mengapa si Pria tidak mau berusaha untuk melakukan apa yang disukai oleh pasangannya? Mengapa usaha untuk menyenangkan pasangannya begitu tidak terlihat? padahal berulang kali si Pria tahu, bahwa pasangannya menangis karena hal yang sama. Pertanyaan itu masih tak terjawab. Dia melontakan pertanyaan “mengapa” yang bertubi-tubi pada si Pria, berharap si Pria menjawab, bukan hanya jawaban klise karena ia tak suka dengan ritual pemberian kado, karena ini toh lebih luas dari sekedar masalah kado. Bukan pula jawaban senyuman dan tertawa kecil si Pria yang ditunggunya. Lama dan terlalu banyak bertanya, namun si pria tetap tak menjawab.

Sekalinya pertanyaan itu dijawab, segalanya jadi lebih menyakitkan.

“Oke, aku akan jadi orang lain yang biasa kasi kamu kado. Aku udah bilang, kalo aku bukan orang yang suka kasih-kasih kado, tapi kalo emang kamu kepikiran terus, ya udah, aku mau jadi orang yang bakal biasa kasi kamu kado, walaupun itu bukan aku. Kalo perlu setiap bulan aku kasih kado sampe hal itu ga ada spesial-spesialnya lagi buat kamu.”

Segalanya jadi begitu miris. Perasaan yang diungkapkannya hanya dimaknai sebatas kado. bukan itu. Dia menangkis, meminta si Pria menghentikan pembicaraan itu, karena hanya akan tambah menyakitkan ketika perasaan yang diutarakan ditangkap dengan begitu dangkalnya. Namun si Pria terus menerus berkata seperti itu, menusuk pasangannya dengan kata-kata yang lebih tajam dari sembilu. Dia menangis, hatinya ikut menetes, perih.

“Aku sama sekali ga butuh hadiah kamu. Kamu tahu, hal apapun itu, aku bisa beli sendiri, ga perlu tunggu hadiah dari kamu. Berulang kali aku bilang, ini bukan soal hadiah, tapi gimana usaha kamu untuk nyenengin pasangan kamu. Aku ga suka kamu jadi orang lain yang bukan kamu, karena aku sayang sama kamu bukan orang lain. Aku ga nuntut kamu kasi kado, aku cuma tanya, kenapa terkadang kamu ga mau berusaha ngelakuin sesuatu, yang kamu tahu, pasti akan bikin pasanganmu seneng. Tapi terserah, kalo memang kamu mau jadi orang lain, mungkin bagus, kamu jadi ga ada spesial-spesialnya lagi buat aku”

Hatinya sakit. Pengertian itu mahal. Dia hanya ingin menyelamatkan hubungannya, meluruskan segala hal yang mengganjal, namun semua jadi bertambah buruk. Pria itu salah mengerti dan terus mempertahankan argumennya meski pasangannya telah sekian kali memintanya untuk menghentikan kata-katanya yang menyakitkan. Dia memutuskan untuk meninggalkan percakapan itu. Menenangkan diri hingga tak semakin saling menyakiti.

Pria itu tak merasa bersalah. Dengan gampangnya, ia menanyakan kabar dia dan apa yang sedang dikerjakannya. Dia tak ingin membalas semua perhatian itu. Dia lebih memilih diam. Lewat beberapa jam, sepertinya pria itu mulai sadar, ia mengirimkan pasangannya kata-kata maaf yang begitu banyak. Dia masih belum terima, dan dia rasa pria itu hanya mengucapkan maaf seperti biasa yang hanya di bibir. Sebenarnya dia sudah terluka jauh, karena perasaannya, yang sebenarnya sulit dikeluarkan, telah ia coba utarakan dengan sebaik-baiknya, tetapi malah dijawab dengan emosi yang berlebihan dari si Pria. Dia menangis di setiap detik, menyesali setiap kata-kata yang dilontarkan si pria, dan menyesali kelemahannya dalam mengutarakan masalahnya kali ini. Dia kecewa, karena masalah ini tidak selesai, dan masih mengganjal bahkan tambah parah.

Dia lelah. Dia mendapati bahwa dirinya bodoh dengan melontarkan pertanyaan, “kenapa kamu ngga ngelakuin apa yang kamu tahu pasanganmu suka?” tentu saja malas dan rasa tidak biasa bukan menjadi jawaban atas pertanyaan ini. Karena kalian tahu bukan, ketika seseorang jatuh cinta, dan sayang kepada orang lain, dia akan mengusahakan yang terbaik untuk pasangannya, mengalahkan rasa malas dan tidak biasa nya. Dia tak habis mengerti mengapa si Pria hanya menjawab sebatas ia tidak biasa. Oleh karena itu dia terus menerus mengincar si Pria dengan pertanyaan kenapa. Bodoh sebenarnya, karena alasan paling logis yang tidak akan mungkin diakui si pria adalah bahwa ia malas berusaha untuk menyenangkan pasangannya dan mungkin masuk dalam kategori tidak peduli. Bodoh karena Dia masih mengharapkan jawaban si Pria, sedangkan dia tahu ujung-unjungnya akan mengarah kepada jawaban tadi, yang mungkin jika dikatakan oleh si Pria, akan lebih menyakitkan. Dia memilih diam. Bagaimanapun juga, hatinya telah dimiliki si Pria. Dia tak bisa pergi kemana-mana dan tak bisa marah lama-lama. Dia tahu segalanya akan luluh lagi,bahkan dalam waktu dekat. Tetapi seperti biasa, masih ada rasa yang menganjal, yang mungkin akan dicoba untuk tak lagi dikeluarkan dan rasa sakit yang akan membekas.

***

03 May 2011

saya ingin pulang :'(

hidup saya berdasar kesalahan,
lalu tenggelam semakin dalam,
terpuruk,
dalam kelam yang sebenarnya semakin mencekam.

Mereka putih,
lalu panik,
memandang saya dari atas dan menganggap salah,
mereka menangis untuk itu..

Ekspresi berlebihan.
bahwa saya sudah tenggelam begitu dalam,
mereka tidak tahu.
Yang mereka lihat hanya bayangan dari atas,
yang masih terlihat dekat dengan permukaan.

Saya menggigil,
bahwa disini begitu dingin dan menyakitkan,
selalu membuat jiwa saya tersakiti.
saya ingin pulang,
tapi selalu gagal dan tak bisa kembali. :'(

23 April 2011

Dear Ci Stephanie..

Ci, waktu aku baca "heart lesson-hard lesson1", dan baru baca nomor 1, yang tentang cici maen piano ga pake hati, aku udah kebayang kalo akir-akirnya bakal nyangkut ke yang cici sebut "peristiwa 2 tahun lalu," putus cinta. Sebelom cici sebut akar permasalahannya, aku udah yakin penyebabnya itu dan aku juga ngerasain sedihnya. aku tau banget, gimana orang itu bisa ngerasin hatinya karena ngga mau disakitin lagi.

Mereka lemah, tapi mereka ngga mau ngakuin itu, yang mereka pengen adalah nunjukkin kalo mereka kuat. Padahal dibalik setiap kenggapedulianya, di balik setiap kekerasan hatinya, mereka ancur ci.. aku pernah tulis disini ci.

Aku selalu sedih kalo tau temen-temen aku ada yang kaya gitu, karna aku ngerasa, mereka kaya gitu, karena mereka ngga punya cara pandang yang bener pas ngadepin satu situasi yang sulit, mungkin juga ga punya temen cerita yang bisa diandelin buat kasi pandangan yang baik. Aku sedih karena aku ngga bisa hadir buat mereka saat itu. :(

Mereka orang-orang yang ngerasa bahwa hidup ngga lagi adil buat mereka dan bahwa mereka ngga punya kekuatan apa-apa lagi buat ngubah hidup. Akhirnya mereka cuma bisa "pasrah" dan dendam sama keadaan. Tapi karena rasa ego yang tinggi, mereka ngga mau keliatan lemah ci, terutama di depan orang-orang yang nyakitin mereka, mereka akan tunjukkin betapa kuat mereka, yang sebenernya bakal bikin keropos hati mereka lebih parah.

Kalo cici tau, aku juga bukan orang yang mulus-mulus aja cintanya, aku juga pernah patah hati. Sayang sama orang, tapi orang itu nyia-nyiain rasa sayang aku. aku pernah begitu sakitnya sampe aku janji untuk ngga peduli cinta. liat tulisan ini ci. Se apatis itu sama cinta..

Aku juga pernah berpura-pura kuat ngadepin itu semua ci, sampe akhirnya aku bener-bener lelah. Aku pernah tulis disini ci. Aku cape banget sama kepura-puraan, tapi rasio, yang cici sebut "logika" itu selalu nantangin, "selemah itu kah? cuma sebates itu kah lo bisa tahan?". Sampe akhirnya aku bener-bener ga bisa jawab lagi si "logika". cuma ada hati yang bener-bener lelah, nyeri, dan rapuh. Aku pernah terluka, sama kaya cici. tapi untungnya aku ga sempet ngerasin hati ci. Aku nyelesain smuanya dan aku berusaha bangkit lagi.

Aku inget, ada suatu hari dimana aku ngelepasin semua beban yang aku bawa-bawa. Aku bilang ke temenku. "gue sayang sama dia, dan gue ngga akan nuntut dia tetep sama-sama gue lagi kalo emang bukan gue yang buat dia bahagia. Gue akan ikut seneng walopun dia sayang sama orang lain, yang penting dia bahagia." DAMN ci! Ngomong kaya gitu ke temenku, bikin aku nangis semaleman, ini keputusan super berat yang sebenernya aku ga yakin bisa ngejalaninya. Tapi untungnya temenku selalu support.

Dan setelah itu aku ngerasa bebas ci aku lega. Kalo sebelumnya aku selalu sakit hati pas tau kalo dia deket sama orang lain, sekarang aku bisa bilang ke hati aku, kalo aku bakal ikut seneng, aku bakal ikut seneng, dan aku janji bakal seneng. Susah ci. :'( nyatanya aku tetep sedih juga, nangis juga. Pertentangan! di satu sisi, aku masih pengen dia sama aku, tapi aku udah ngga bisa buat dia sama aku, di sisi lain, aku berharap dia bisa ngerasain sakit yang aku rasain ci, sejujurnya aku ga sedih ngeliat dia seneng diatas rasa sakit hati aku. :'( Aku tahu sikap ini cuma keegoisan aku ci, aku pengen dia sama aku lagi, padahal kalo ada kesempatan pun untuk balik sama-sama dia, aku akan mikir seribu kali dan akan jawab ngga ci, karena aku ngga mau idup aku diabisin sama orang yang pernah nyia-nyiain aku. Aku tahu semua perasaan aku ini akarnya egois ci. Bukan pengen bener-bener dia balik sama aku, tapi cuma sebagai pengobat rasa sakit hati dan penegas ke diri aku kalo aku berharga. Hasil dari semua pertentangan ini adalah, akhirnya aku udah bisa membiasakan diri aku buat ngeliat dia sama orang lain dan aku udah mulai ngga peduli. Maksudnya, kalo dia seneng sama orang lain, hati aku ngga sakit lagi ci, aku bisa seneng juga, kaya apa yang aku bilang ke temenku, walaupun senengnya ga seneng banget, yaah, biasa aja.

Yang paling mendukung buat aku saat itu adalah karena aku selalu tulis perasaan aku ci, aku tau bener apa yang lagi aku rasain, dan aku usahaain cari jalan keluarnya, bukan cuma menghindar. Kaya yang aku pernah bilang ci, menulis itu salah satu cara kita untuk bisa tetap waras.

Kalo sekarang aku inget-inget, aku bersyukur banget ci pernah patah hati, setidaknya aku jadi tau gimana perasaan orang yang disakitin itu, jadi aku ngga nyakitin orang lain, kaya aku pernah disakitin dulu. Disamping ternyata banyak positifnya ci, aku jadi sering nulis dan udah banyak hasilin tulisan dari semenjak patah hati dulu. haha. Apa yang tampaknya bencana buat kita, kadang kala itu anugrah yang ngga kita sadarin dari Tuhan ci.

Hmm, kalo aku saranin,
1. Cici ngga bisa terus-terusan menghindar dari sakit hati itu. Ga bisa terus-terusan pura-pura kuat. Di suatu titik, cici harus bisa dulu nyelesain rasa sakit hati itu, baru bisa jalan untuk selanjutnya. Nyelesain itu, berarti cici maafin orang yang udah nyakitin cici, cici bener-bener lepasin kekecewaan n sakit hati cici, dan mulai nyoba ngeliat orang itu dari sudut pandang yang baru.

2. Ijinin diri cici nangis sepuasnya, seharian kek, tapi setelahnya cici janji untuk ga nangis karena hal itu lagi. Setiap kali nanti mau nangis, cici bilang ke dalem hati, "waktu itu kan udah nangis puas, masa mau nangis lagi, malu donk" hahha.. dibecandain gitu aja biar hatinya ga nangis lagi.

3. Setiap kali cici ngerasa sakit karena orang itu, inget aja ci, semua yang terjadi sama kita itu untuk suatu kebaikan. Ada orang-orang tertentu yang memang Tuhan sediain buat ngajarin hal-hal berharga di hidup kita. Apa yang kita anggep sekarang bencana, itu bisa aja sebenernya anugrah dari Tuhan yang ngga pernah kita sadarin. Misalnya, sekarang kita ngerasa rugi karena patah hati, tapi keuntungannya banyak banget ci, kita jadi bisa sharing pengalaman yang bisa jadi masukan buat banyak orang, trus bisa jalin hubungan lebih deket sama Tuhan, bisa lebih erat persahabatan sama temen-temen, trus juga bisa nghasilin karya-karya yang bagus selama patah hati itu. Coba sekarang cici liat sisi positif nya bisa lebih besar dari negatifnya, jadi ngga ada alesan lagi buat ngga bersyukur.

4. Selesain rasa sakit hati cici dulu sampe beres, baru melangkah lagi.

5. Jangan pernah takut untuk sayang dan cinta sama orang lain ci. Kalo cici ngga mau sayang sama orang lain karena takut disakitin, cici keilangan kesempatan juga untuk sayang sama orang yang ternyata sangat baik dan ga akan nyakitin cici. Peluangnya sama besar ci, dan resikonya sama, cici bakal kecewa. Kecewa karena kalo udah sayang, kemungkinan terburuknya ternyata disakitin. Di sisi lain cici bakal kecewa juga kalo misalnya mutusin ngga sayang sama orang lain lagi, yang ternyata bakal sangat baik sama cici, dan ga akan nyakitin cici.

Ngeliat peluang yang sama besar dan resiko nya sama, kalo aku, milih untuk sayang sama orang lain ci, walaupun kemungkinan terburuknya disakitin, daripada aku anti duluan karena takut disakitin. Setidaknya aku pernah berusaha ci walaupun gagal, bukan kaya pecundang yang mengharapkan hal-hal yang baik di hidupnya tapi ngga pernah berusaha.

Oh ya, di akhir cerita, orang yang bikin aku patah hati itu datengin aku lagi loh, dia ngerasa bersalah karena udah sia-siain orang yang sayang sama dia. Di saat itu, aku kasian ci ngeliat dia, aku bilang sama dia, kalo aku sayang sama dia, tapi sekarang ini cuma sebagai temen dan ga bisa lebih, tapi aku bakal support dia kalo memang dia butuh bantuan.

Yang lebih buat aku bersyukur buat semua ini, aku udah dapet gantinya, yang kalo mau dibilang, 1000 kali lebih baik daripada orang itu ci. Bener kan, patah hati itu buat aku anugrah ci, aku ngga akan nangis lagi karena patah hati yang aku alamin dulu. Masa di kasi sesuatu yang baik, malah nangis dan sedih? Bayangin deh, Tuhan kasi cici sebuah hadiah yang isinya bagus banget, tapi dibungkus sama kertas kado yang lusuh dan lecek. Cici baru liat kertas kadonya, cici udah marah dan ngga mau nerima kado itu lagi. Padahal kalo cici terus ikutin jalanNya, bisa aja isi kadonya itu sesuatu yang bener-bener berharga buat cici. :)

Hmm,, segini dulu ya ci tulisan aku, udah bawel banget nih aku, hehe.. Maap kalo ada kata-kata yang cici ngga suka, atau terkesan menggurui ato apa. Sebenernya bukan itu maksud aku, aku cuma pengen ngebagi pengalaman, n pengen bikin cici bangkit lagi, semangat lagi.

SEMANGAAAT CICI.. :)

Whoooooaaaaa.. postingan aku kali ini eksplisit sekali, padahal cici tau kan, aku selalu ngga suka nulis blog yang eksplisit. Demi cici nih. hahha.

19 April 2011

Saya sedang ingin berada jauh dari cinta.

Menghukum diri saya dengan terjaga di malam-malam panjang.
Merasakan kesepian,

dan kesendirian..

17 April 2011

hmm..

Mengerti bahwa seorang pemimpin juga manusia,
membuat tersadar,
bahwa semua orang juga bisa salah.

Tidak ada manusia sempurna,
Lebih baik jangan berharap terlalu tinggi.

Saling menyalahkan tak akan memberi hasil.
Hati menjadi beku,
hanya berisi tudingan dan dendam.

Kekecewaan bahwa aspirasi tak didengar,
barangkali juga harus introspeksi,
bisa saja kesalahan ada disini.

Jangan pelihara kecewa,
jangan simpan lagi dendam itu.
kita keluarga, kita satu.
memaafkan adalah jalan terbaik.

Mengerti bahwa seorang pemimpin juga manusia,
membuat tersadar,
bahwa semua orang juga bisa salah.