24 September 2018

:)



Masih teringat hari itu,
Saat saya tak percaya dengan beberapa hasil tes,
Lalu bergegas ke dokter untuk memastikan.

Masih teringat hari itu,
Bagaimana perasaan haru menyelimuti,
saat pertama kali mendengar detak jantungnya.
Menyadari sungguh ada makhluk kecil tumbuh di rahimku.

Masih teringat hari itu,
Bagaimana noraknya,
Saat pertama kali merasakan gerakan halus di perut.
Bukan hanya karena melihat aksinya saja di layar USG.

Masih teringat hari itu,
Bagaimana bahagianya,
Saat pertama kali bisa berinteraksi dengannya,
Seperti dapat balasan ‘tos' dari dalam perut.

Sejak hari itu,
Saya tak pernah lagi sendiri.
Ada dia yang memberi kehangatan kepada saya yang suka kedinginan,
Ada dia yang membuat saya memaksakan diri melakukan hal-hal sehat yang jarang saya lakukan,
Ada dia yang jadi penghibur karena bisa ikutan ngerjain papanya,
Ada dia yang jadi alasan saya bisa lebih kuat dan lebih sabar,
Ada dia yang membuat saya mau belajar lebih banyak lagi untuk memberdayakan diri.

Masih teringat banyak hari manis dalam proses kehamilan ini.
Sebuah proses yang akan saya kenang selamanya sebagai perjalanan spiritual,
Untuk lebih berserah dan pasrah kepada Sang Pencipta,
Mempercayai bahwa Ia selalu menyediakan yang terbaik untuk saya,
Dan menikmati semua hal yang dihadapkan kepada saya dengan bahagia.

Di penghujung proses yang akan segera berakhir,
Saya hanya bisa mengisinya dengan rasa syukur.

Betapa saya sadar, begitu banyak orang baik di sekeliling saya,
Begitu banyak hal baik terjadi pada saya.
Semua kelancaran dan kemudahan,
Pada akhirnya membuat saya semakin yakin,
saya dicintai amat sangat oleh Sang Pemberi Kehidupan,
Yang memberikan hadiah penuh cinta untuk saya.

17 August 2018

Terharu (Part 3) - 3 things

Jadi kemarin ini , saya ikutan main "3 things about you" di IG gitu. Jadi intinya, kalo orang kirim ke saya kata "Hello", saya akan kasi 5 pertanyaan ke mereka, dan kalo mereka udah jawab, saya akan post "3 things about you" nya mereka.

Di antara 5 pertanyaan itu, salah 1 nya adalah pertanyaan "Deskripsikan saya di mata Anda", dan ini adalah beberapa jawabannya yang saya capture.

Terharu.

Betapa saya dikelilingi orang-orang baik :






























:)

Seorang kawan tiba-tiba nyeletuk,
"Dari dulu aku ngerasa kasihan sama kamu, Njel.."
"Lah, kenapa kasian?," jawab saya menahan ketawa.
"Ngga tau kenapa, kayanya sih bebannya dipikul sendirian terlalu banyak, nda tau bener apa salah... Rasanya proses kekuatanmu yang sekarang kamu dapet, melalui cobaan yang nda semua orang bisa lewatin, itu menurutku.."

------

Kali ini saya beneran ketawa.

Lantas kenapa harus kasihan?
Bukannya bagus?
Berarti proses cobaan itu, membentuk saya lebih tahan banting kan?

Saya akan tetap kuat, kawan.
Kekuatan di tubuh yang kecil ini, berasal dari atas.
Berasal dari Sang Penciptanya, Sang Pemberi Kemampuan.

Tenang :)

03 July 2018

......

Pada dasarnya ini tentang kita.
Tentang ketidakmampuan kita menjalin komunikasi yang baik.
Jangan salahkan yang lain ketika semua menjadi buruk.

Kau tahu?
Aku pun ingin bahagia.

Kau harus mengerti,
aku sudah berusaha keras untuk mencintai.
Berdamai dengan penyesalan di masalalu,
dan berusaha bersyukur dengan saat ini.

Kau tahu?
aku berusaha lebih keras dibanding apa yang kau rasa.

Jauh di lubuk hatiku,
Aku ingin kita seperti keluarga normal yang bahagia.
Tapi cinta tak bisa dipaksa,
Ia selalu hilang, terutama saat di kekang.

Aku frustasi,
Aku muak.

Bisakah kau membantuku?
Tak hanya mendesak dan memaksa?

Semakin aku mencoba untuk mencinta,
semakin kau buat dirimu susah untuk dicinta.

Mengapa sangat susah membiarkan cinta tumbuh dalam kebebasan?
Mengapa tak kau buat dirimu mempunyai nilai yang bisa dicinta?

Pernahkah kau mengerti,
segala perbuatanmu yang membuat aku lari darimu.
Pernahkah kau sadari,
bahwa yang aku butuhkan hanyalah sosokmu sebagai suami,
yang membimbing, yang melindungi, yang memimpin,
bukan sebagai orang yang hanya selalu mendesak?
Pernahkah kau mau mengerti sedikit saja perasaanku?

Ahh sudalah.

Barangkali terlalu besar ekspektasiku untuk dapat dipahami
oleh kamu yang selalu mementingkan ego mu.

Itulah sebabnya aku benci kamu.

26 April 2018

Tentang test kepribadian...

Ceritanya kemaren iseng-iseng test kepribadian MBTI, dan lumayan kaget karena hasilnya mendekati. Kayak jadi punya kata-kata untuk mendeskripsikan diri, yang sebenernya udah pernah di deskripsiin dengan kalimat sendiri secara ngasal.

Katanya saya ini tipe nya INTJ (Arsitek). Saya kutip dua bagian yang saya rasa pas banget aja ya,
Keterangan lainnya bisa dicari sendiri di google, hehehehh.

SATU :

"INTJ percaya pada rasionalitas mereka di atas segalanya. Jadi saat mereka tiba pada sebuah kesimpulan, mereka tidak punya alasan untuk meragukan apa yang telah mereka simpulkan. 

Kreativitas, logika, dan percaya diri bersama-sama membentuk seorang INTJ. Mereka bisa berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Figur pemimpin tidak akan menggoyahkan INTJ, begitu juga dengan norma sosial atau tradisi, bagaimanapun populernya hal tersebut. Jika mereka memiliki sebuah ide yang lebih bagus, INTJ akan berdiri melawan setiap orang dan berusaha untuk mengubahnya."

ini kata orang-orang : 









Sejujurnya, saya sering ngerasa sendirian. Punya pendapat yang beda dari orang lain itu melelahkan. Tapi ya itu, di saat segala pemikiran saya udah mencapai kesimpulan dan saya anggep itu bener, disanalah diri saya sendiri gak bisa ngerubah lagi. Saya akan yakinin itu 100% dan akan ngelakuin itu apapun resikonya (karena sulit buat saya untuk ngelakuin hal yang gak sesuai sama hati nurani).

Seringkali salah disalahartiin juga sebagai orang yang keras kepala dan gak peka sama orang lain. Tapi pada akhirnya ketika saya ngejelasin segala embel-embel pemikiran saya, banyak yang berubah jadi setuju dan mendukung jalan yang saya tempuh. Tapi (lagi) sebagai seorang introvert sejati, lebih gampang buat saya untuk terus aja ngelakuin apa yang saya yakinin bener tanpa harus ngejelasin rinci asal muasal pemikiran saya.

Sebenernya ini bukan berarti saya gak terima pemikiran orang lain, kalo menurut saya, orang lain itu masuk akal, tanpa adu mulut, saya bakal terima dengan lapang dada. Itu sebabnya mungkin Tuhan ngirimin orang macem Okta sebagai pendamping hidup saya ya. Yang tanpa sifat arogan, bisa ngejelasin sesuatu dengan masuk akal dan bikin saya sadar kadang ada juga letak salah pikir saya.


DUA:


Terkait gambar yang paling bawah ini ya, bener banget loh.

Saya suka banget mempertanyakan segala hal. Bukan karena cuma iseng, tapi sungguh penasaran.
Kenapa ini harus begini, kenapa itu begitu? Yang saya inget, beberapa kali saya nanyain hal yang gak bisa dijawab sama Bapak / Ibu Pendeta. Terus dulu pas kecil, sering banget dianggep pembangkang atau ngelawan orang tua gara-gara ngejawabin statement mereka yang saya anggep gak berdasar, terus disuruh diem. Katanya saya orang yang ngeyel, yang gak bisa terima kalo dikasi nasihat sama orang tua. Tapi buat saya, ya gimana saya bisa terima kalo rasa penasaran saya belum terjawab, tapi demi gak terjadi perang dunia ke 3, saya nurut untuk diem dengan segala pemikiran yang berkecamuk.

Untuk hal ini, saya nemuin potongan tulisan Mbak Dee Lestari yang paaaasss banget di buku Partikel, saat si Zarah ngelontarin pertanyaan ke Abah nya tentang agama, dan Abahnya malah emosi dan nampar dia.

"Aku pun merasakan luapan amarah dalam hatiku. Mengapa mereka harus meradang karena pertanyaan-pertanyaanku? Seolah-olah semua yang kuucapkan adalah hinaan? Kenapa mereka tidak bisa melihatnya semata-mata sebagai pertanyaan?"

Saya sering banget ngerasa seperti yang ditulis Mbak Dee itu. Kenapa pertanyaan saya gak bisa dianggep sebagai pertanyaan semata? bukan suatu bentuk pembangkangan? 

Masa-masa itu udah lewat sih. Sekarang ini orang tua saya udah kayak temen yang bisa jadi tempat ngobrolin segala sesuatu tanpa ribut-ribut dan marah-marah. Saya pun lebih milih untuk gak terlalu frontal / berdebat sama orang-orang yang gak terlalu penting. Gak mau buang-buang tenaga.

Tapi... yaaa begitulah.

Saya suka tersesat dalam pikiran saya sendiri. Selalu menggali lagi setiap nilai yang saya terima. Saya gak akan bergerak sebelum memastikan saya bisa nerima nilai-nilai itu. Cape? Lumayan.
Tapi seneng sih, saya ngejalanin segala sesuatu yang saya pahamin, gak asal denger kata orang aja, bukan karena ikut-ikutan, tapi saya selalu punya alesan yang jelas ketika ngelakuin sesuatu.

Dan saya perlu tulis disini juga,
Saya bersyukur banget punya partner kaya Okta, yang walopun kadang keliatan gak bisa serius dan selalu ngajak "ribut", ketika dia ngejelasin sesuatu, saya sering terpukau karena menurut saya terlalu bijak. Penjelasannya selalu runut, dan masuk akal, dan paling penting lagi, selalu positif.

Saya bisa bilang, 75% penyebab saya jadi orang yang positif, itu gara-gara dia. Kalo udah mulai negatif, dia kayak tim medis yang dateng untuk cuci otak saya sampe jadi positif lagi. Untuk itu saya betul-betul bersyukur.