12 September 2011

Dear Jun #2

Dear Jun,

aku akan berusaha mengartikan semuanya,
walau itu berarti mengorek luka.

Dalam waktu yang sangat singkat ini, begitu banyak hal yang telah terjadi. Dan bagaimanapun, jujur, semuanya sangat menyakitkan.

Dimulai dari keinginan untuk menghargai perasaan, tapi aku justru terjebak dalam penghargaan yang terlalu tinggi. Aku mulai sadar dan aku tidak diam saja, beberapa peringatan kulontarkan. Aku ingin menjauh, tapi aku terlemahkan oleh rasa kasihan. Aku tertahan disana dan memang pada akhirnya aku merasa nyaman. Tapi aku sungguh tidak diam saja. Aku selalu berperang, aku selalu melawannya, aku selalu mematikan rasa itu, dan aku selalu berusaha untuk menjauh. Tapi semuanya memang sulit.

Jika mau dirunut, akan ada banyak alasan yang menyebabkan aku ada disana. Banyak pemikiran yang terbentuk selama bertahun-tahun, banyak prasangka yang akhirnya tidak lagi kuutarakan karena terlalu bosan dengan jawaban yang tak masuk akal. Aku benar-benar jenuh merasa berjuang sendirian. Aku sampai pada suatu titik dimana aku tidak percaya lagi tentang dia ataupun tentang segala yang selalu diucapkannya. Oleh karena itu aku memilih untuk berjuang sendirian, meski kuakui itu sangat berat.

Segalanya jadi semakin memburuk. Realita itu diketahui sebelum waktunya dan dia menuntut jawabku. Aku tak bisa menjawab apapun. Satu-satunya yang dapat kukatakan adalah maaf, dan memang benar ada kesalahan disini. Sempat aku tak tahu lagi harus berkata dan berbuat apa, saat dia lebih juga percaya dengan apa yang dilihatnya.

Aku tau ini menyakitkan dan semua tersakiti. Tapi ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, ada alasannya, semua itu ada logikanya. Aku benci mendengar semua tuduhan itu, Jun. Aku tidak seperti itu. Aku benci pada mereka yang hanya bisa menyalahkan tanpa mencoba memahami perasaanku.

Semua tidak seperti yang terlihat. Yang terpenting itu, HATI kan Jun? dan aku sungguh-sungguh telah mencoba bertahan dengan hatiku.

Ketidakpercayaan hadir disana. Menemani malam-malamnya. Emosi dan amarah menjadi satu dengan siangnya. Aku hanya ada di pinggiran hatinya. Dimana dia hanya terus mencecarku dan melancarkan tuduhan-tuduhan.

Mungkin terkesan egois, tapi aku ingin merasa dipahami. Aku ingin dia dapat melihatku tak seperti tatapan dunia dan orang-orang lain. Aku tahu benar perasaannya. Aku tahu bagaimana sulitnya berdamai dengan hati, karena aku pernah rasakan hal itu bertahun-tahun lalu. Tapi kejadian ini beda. Aku tak pernah berbohong tentang perasaanku, Jun. Dia seharusnya bisa mempercayaiku. Aku tak pernah bohong tentang perasaanku. Aku hanya belum sempat mengutarakan dan menjelaskan semuanya.

Aku bukan orang lemah, Jun, kamu pun tahu itu. Bertahun-tahun aku memperjuangkan segalanya dan ketika aku jatuh, bukan karena aku lemah, tapi lebih kepada segala dasar pemikiran yang telah kusebut itu. Hidupku selalu berawal dari sana.

Ekspektasinya sedang berada jauh dari realita. Dia kecewa dan hancur. Aku juga begitu. Ternyata lebih sakit melihatnya sakit, daripada sakit itu sendiri yang dulu pernah juga kurasakan. Kenyataan bahwa pemikiranku selama ini salah menjadi hal lain yang sangat menambah luka.

Aku berusaha untuk tidak menyalahkan siapa-siapa. Tapi memang ada beberapa hal yang kusesali. Dan sampai saat ini membuat aku sesak ketika memikirkannya. Hal itu adalah kebodohan dan ketersesatan pikiran yang belakangan baru terbongkar dan kusadari setelah adanya masalah ini. Banyak hal indah dan banyak hal yang telah dia perjuangkan namun tak kuketahui. Sifatnya yang lebih tertutup, membuat aku tak paham. Aku merasa bodoh. Mengambil asumsi dan menjalankannya sebagai sebuah kebenaran secara terus menerus. Aku benar-benar bodoh, Jun.

Untungnya, pengampunan itu masih ada. Masih ada kesempatan. Aku janji untuk tak menyia-nyiakan semua itu. Banyak hal telah kupelajari. Tentang perasaan, tentang komitmen, tentang perjuangan, tentang dunia luar. Tentang segalanya.

Dan aku pasti tidak akan mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Karena seperti yang sudah kusebutkan, bahwa segala sesuatu yang kulakukan berdasarkan pemikiranku, dan saat ini aku sudah sadar bahwa pemikiranku salah. Aku takkan berpikir seperti itu lagi.

Aku mau menatap hari baru. Aku akan jadi kuat, jauh lebih kuat dari sebelumnya, Jun.

Aku menyesali kebodohanku. Tapi aku tak mau berdiam di tahap itu. Harus ada langkah konkret. Penyesalan itu harus jadi sesuatu yang berarti, sakitnya harus bisa dikenang agar tak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Tapi ini bukan berarti aku juga menyesali hidup. Tidak, Jun. Aku tidak pernah dan tidak akan menyesali hidup, karena aku yakin, hidupku merupakan serangkaian pelajaran berharga yang terjadi dalam urutan yang tepat. Bila kali ini terasa menyakitkan, aku tahu ada yang indah, bahkan sangat indah dibaik itu semua. Keindahannya pun sudah mulai aku rasakan.

Segalanya memang menyakitkan, Jun, aku akui itu. Tapi diatas semua itu, aku mau tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Tuhan untuk ini semua, aku bersyukur karena Engkau mengijinkannya hadir dalam hidupku.. Pembelajaran yang sungguh sangat berguna dan berharga" :)

Menulisnya di sini, berarti mengijinkan semuanya keluar dari kepalaku, dan membiarkan segala kenangan yang menyakitkan itu pergi. Menulisnya menjadi semacam peringatan yang akan selalu memperingatkan tentang segalanya. Menulisnya menjadi semacam acuan, dimana setelah ini akan ada perubahan ke arah yang lebih positif. Dengan menulisnya, aku menunjukkan bahwa aku telah berani menghadapi semua rasa menyakitkan dan aku akan dengan segera melupakannya.

Pada akhirnya, yang kubiarkan tinggal di hatiku hanya rasa syukur, dan tekad yang kuat untuk lebih baik lagi setiap harinya. :)

06 September 2011

Saya belajar banyak dari sebuah kesalahan.

Saya menyadari,

Betapa saya telah salah sangka,
dengan larangan-larangan yang menjemukan.
Padahal semuanya hanya untuk kebaikan diri saya sendiri.

Betapa saya telah sering mengucapkan kata berpisah,
bahkan dengan enteng dan tak banyak pikir,
Padahal ketika harinya tiba, saya benar-benar meronta agar itu tak jadi kenyataan.

Betapa saya bodoh,
melukai orang yang saya cintai.

Dan ternyata lebih menyesakkan dan menyakitkan,
ketika melihat orang yang saya cintai tersakiti.

Ia berjuang melawan kesakitan,
pada tiap malam yang dilewatkannya dengan terjaga,
dan hari-hari yang tak mampu lagi diisinya dengan segala hal yang disukainya.
Ia hanya mampu terdiam dan tak bisa berdamai dengan hatinya.

Saat itu saya benar-benar ingin membunuh diri saya sendiri.
Hati saya terkoyak,
Hati saya merasakan perih yang tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Ketika suatu kesempatan akhirnya menghampiri,
saya berjanji tidak akan menyia-nyiakannya..

25 August 2011

beberapa percakapan tentang cinta, hubungan, dan komitmen,, :)

"Tapi serius gw kadang ngerasa banyak gitu yang lebih baik dari gw, lebih cantik, lebih pinter, lebih nyenengin, lebih lebih lah, di luar gw bersyukur sama semua yang gw terima sampe saat ini...Seharusnya sih ga boleh gitu "

"hmm,,kayanya ga bakal ada yang jadi "paling"... kalo ada yang lebih cantik, pasti ada lagi yang lebih cantik lagi.. ga akan ada abisnya.. mau sampe kapan mikir gitu? dengan lu yang sekarang aja banyak yang suka sama lu kok,, ga perlu jadi yang lebih2.."

"Gw udah selalu coba omongin dulu2 kalo emang menurut gw dia berubah ke arah yang lebih buruk, tapi ada yang bilang juga, yang menurut gw baik belum berarti baik buat dia juga.. Gw takut, ya gw kalo udah sayang ya gini lah.. Takut banget kehilangan dia.. "

"hmm,, terkadang semakin sayang, lu harus semakin bisa ngebebasin seseorang.. tau sih perasaan keilangan itu ada banget kalo udah sayang, tapi lo harus kasi kepercayaan sama dia.
kalo emang dia sayang sama lo, ya pasti dia bakal bertahan sama lu.
kalo emang dia ga sayang, kenapa lu harus paksa,,
percuma kalo secara fisik dia ada di deket u, tapi hatinya ga ada.
gw belajar buat ngga anggep pasangan kaya barang yang gw takutin bakal keilangan.. tapi dengan gw jadian, gw kasi kepercayaan ke dia untuk ngelakuin apa yang dia suka, ga selalu terkekang karena gw yang takut keilangan dia"

******

"bangga dnk punya pacar cantik"

"haha..justru itu aku takut jadi banyak yg ngejar-ngejar kamu, entar aku kalah saing deh."

"cuy, denger ya,, sekali aku udah sama kamu, aku ga akan tinggalin kamu karena orang lain,,
mau brapa banyak yg suka kek, aku bakal tetep sama kamu, karena kalo aku udah sama kamu, kamu yg utama buat aku, dan kamu bukan pilihan.
Aku bakal tetep jaga hati aku buat kamu.. aku ga akan liat org lain yang mungkin lebih ini itu, karena kalo aku udah sama kamu, ya kamu yang terbaik.
udah cukup.
ga akan aku banding-bandingin sama yang lain"

"ya tapi sebagai cowo kan pasti tetep bakal cemburu juga,
Karena buat aku kan kmu anugrah terindah buat aku"

"haha.. cemburu boleh kok, kalo ga cemburu mah namanya ga sayang,, :) tapi aku mau yakinin kamu aja, aku ga akan tinggalin kamu karena orang lain"

"emm..tapi kalo memang ada yang kamu berasa lebih cocok, jangan bohongin hati kamu juga.
aku ga bakal paksain kalo alesannya begitu"

"Ya elah,, kita sama-sama udah ampir 6 taon, masa nanti aku brasa cocok sama orang,
aku relain hubungan yg udah 6 taon?
Semua yang baru pasti keliatannya lebih indah cuy,,
Tapi belom tentu juga bisa bertahan lama"

"Ya kan bicara kemungkinan sayangku.."

"kemungkinan itu bisa jadi ada.. tp misalnya nanti ‎aku ngerasa cocok sama orang,
itu karena aku baru kenal dia sedikit kan, aku belom tau dia kalo udah 6 taun itu kaya gmana?
dan terlepas dari itu semua, aku selalu ngerasa kamu yg terbaik"

" Ya iya c..bagus kalau berpikirnya kya gtu cuy..
Kita jg harus tetep pertahanin komitmen kita, buat slalu sama2..ya.."

"iya, kamu juga gitu ya.. :)"

"Iya donk, aku selalu menjunjung tinggi komitmen kita..
ga akan pernah ingkar karena aku bener-bener sayang sama kamu..
aku akan selalu sayang dan ga akan pernah berubah.
apapun keadaannya, kamu yang ada di hatiku"

11 August 2011

11 Agustus 2011

Saya yakin kamu yang terbaik,
dan
saya janji akan selalu memilih kamu diantara begitu banyak pilihan.

kepercayaanmu adalah sesuatu yang sangat saya butuhkan saat ini.

Saya cinta kamu.


01 August 2011

Saya harap kamu mengerti.

Pada akhirnya, saya menuntut diri sendiri untuk mampu memilih jalan ini. Sebuah jalan yang sudah pasti sangat tidak mudah. Saya harus mampu, dan itu yang selalu saya katakan pada diri saya.

Saya benar-benar ingin pulang. Tidak hanya sesaat, tetapi untuk seterusnya. Tidak mau pergi lagi.
Selalu ada penghalang yang membuat saya jauh dari rumah, dan saya benci menyadari bahwa penghalang itu merupakan bagian yang amat saya cintai.

Berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian membuat saya hampir gila. Satu-satunya yang saya inginkan hanya pulang.

dan,
melepaskan apa yang saya cintai,
ternyata menjadi konsekuensi yang tidak dapat dielakkan lagi..