10 January 2017

Satu Bulan Pertama

Satu bulan pertama,
sejak saya berjanji menjadi pendamping Okta seumur hidupnya,
jadwal rutin saya berubah drastis,
si "tukang bangun siang" ini, kini belajar bangun pagi,
belajar masak, dan sarapan pagi.
Setelah beberapa pagi pertama, ketika saya masih terlelap,
Okta udah kelaperan tingkat dewa.

Satu bulan pertama,
belajar memahami "kehidupan baru",
dimana "rumah saya" kini berubah jadi "rumah mama / rumah papa"
dan saya punya "rumah baru" bersama Okta.

Satu bulan pertama,
belajar mencatat dan memperhatikan detail semua pengeluaran,
belajar mengingat di tempat mana yang murah untuk belanja sayuran,
setelah beberapa kali belanja di pasar kena dimahalin.

Satu bulan pertama,
saya baru menyadari,
Okta lebih kocak dari yang selama ini saya kenal.
Setiap hari saya tertawa,
dan saya selalu tertawa kalau mengingat kelakukannya,

Satu bulan pertama,
saya baru tahu, selama ini saya salah sangka,
saya pikir jika menikah, saya akan senang mengganggu Okta setiap hari,
tetapi ternyata saya yang diganggu setiap hari.
Ternyata tingkat ke-annoying-an Okta hampir selevel dengan adik saya.

Satu bulan pertama,
selalu bersama dengan partner kerja,
menghabiskan malam dengan membicarakan permasalahan yang terjadi,
membicarakan mimpi-mimpi besar kita,
menjadikan mimpi tersebut nyata, bersama-sama.

Satu bulan pertama,
membuat target-target kebiasaan baru yang harus dicapai,
saling mendukung dan menyemangati untuk mencapai target tersebut.

Satu bulan pertama,
bahagia menyadari bahwa saya akan bersama dengan orang baik seumur hidup saya.
Orang yang merawat saya ketika saya sakit,
Orang yang menghibur saya ketika saya menangis (sampai orangnya ketiduran sendiri)
Orang yang sangat gak so sweet, tapi memberikan segalanya untuk saya,
Orang yang gak pernah nuntut, karena menerima saya apa adanya.
Baginya, apapun yang saya lakukan untuknya adalah sebuah kemewahan.

Satu bulan pertama,
mengenal lebih dalam lagi,
saling berbagi,
saling menopang,
saling berbagi sukacita.

Satu bulan pertama,
semoga menuntun pada sejuta bulan lainnya yang penuh kebahagiaan :)

09 January 2017

Bulan madu di Pulau Ora

Impian saya no. 30, "Bulan madu ke pulau cantik di Indonesia" terwujud dengan indah,
lebih dari yang saya bayangkan.

Pada awalnya, kami (saya dan suami saya -Okta- ) bingung menentukan destinasi bulan madu, sempat juga saya lupa kalau punya impian nomor 30 yang saya tulis di diary saya.
Saya sempat mencari destinasi luar negeri seperti Eropa dan Jepang, sebelum akhirnya disadarkan oleh Okta kalau saya punya impian nomor 30 tersebut.

Setelah tersadar, saya mulai mencari tujuan-tujan bulan madu di Indonesia,
tapi saya tak ingin yang biasa seperti bali dan lombok,
saya ingin ke tempat cantik yang belum pernah saya singgahi.

Pilihan itu mengerucut pada Pulau Derawan, Pulau Ora, dan Raja Ampat.
Dan akhirnya kita memilih Pulau Ora, karena saya sangat suka laut, sedangkan Okta sangat suka gunung, dan Pulau Ora adalah perpaduan dari keduanya. Kami memutuskan berbulan madu di Pulau Ora dengan beberapa hari menghabiskan waktu juga di Ambon.

Kami pergi tanggal 11 Desember 2016,
tepat sehari setelah pernikahan kami di tanggal 10 Desember 2016.

Hari ke 1
Dimulai pukul 06.00 WIB, kami pergi ke airport dengan menggunakan grab car, dan melakukan penerbangan ke Bandar Udara Pattimura di Ambon dengan maskapai Garuda Indonesia. Jadwal keberangkatan pesawat, kami pilih di jam 08.15. Penerbangan Jakarta - Ambon memakan waktu sekitar 3 jam 40 menit. Kami tiba di Ambon pukul 13.55. Tiket penerbangan PP Jakarta - Ambon yang kami beli saat itu sekitar 6.900.000 untuk 2 orang.

Kami menunggu di jemput di salah satu cafe yang ada di Bandara. Selama di Ambon, rencananya kami akan diantar jemput oleh sepupu guru Inggris Okta (yang notabene orang Ambon). Rute selanjutnya dari bandara, adalah melintasi jembatan gantung yang baru dibangun, mampir di gong perdamaian, dan kemudian check in hotel di Ambon (kami memilih hotel Amaris). Setelah mandi dan beristirahat, pada sore hari sekitar pukul 19.00 WIT, kami dijemput untuk makan malam. Kami pergi ke tempat nasi kuning yang khas Ambon, kemudian berkeliling ke Lapangan Merdeka, Patung Christina Marta Tiahahu, dan kemudian ke jembatan gantung kembali, untuk melihat suasana disana pada malam hari, dimana jembatan tersebut disinari lampu yang berwarna-warni. Selesai berkeliling, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk perjalanan esok hari.










Hari ke 2
Kami dijemput pukul 09.00 WIT. Tujuan wisata utama adalah Pantai Liang. Pantai Liang merupakan pantai yang pernah dinobatkan oleh PBB menjadi pantai terindah di Indonesia pada tahun 1990. Perjalanan ke Pantai Liang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Untuk masuk ke dalam tempat wisata tersebut, ada retribusi yang perlu dibayarkan seharga 5000 rupiah.






Di area Pantai Liang, ada jembatan yang dapat digunakan untuk melompat ketika ingin berenang, untuk melihat pemandangan, atau sekedar berfoto. Di Pantai Liang ini, air laut yang jernih bergradasi dan awan yang menggulung, menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Kami menghabiskan waktu untuk memandangi pemandangan ini kemudian beralih ke Desa Waai. Di Desa Waai, kami mengunjungi air terjun Waai & belut raksasa Morea. Setelah melihat belut, kami mengunjungi salah satu pemandian air panas yang terkenal di Ambon. Saya sempat berendam di pemandian air panas ini, rasanya sungguh enak.







Di perjalanan pulang kembali ke hotel, kami mampir ke restoran Lateri di Jl. Woltermonginsidi. Kami memilih bagian restoran yang ada di atas laut. Kebetulan bagian tersebut baru selesai dibangun dan dibuka untuk umum. Di restoran Lateri ini, kami memesan papeda (masakan khas Ambon) dengan ikan yang dimasak kuah kuning dan ikan bakar. Sangat nikmat. Makanan yang enak bercampur dengan suasana laut yang sepoy-sepoy. Setelah makan, kami kembali ke hotel.


Hari ke-3
Hari ini jadwal kami adalah ke Pulau Ora. Kami membeli paket berlibur 3 hari 2 malam ke Pulau Ora yang dibandrol seharga sekitar 7.800.000 untuk berdua. Kami dijemput dari pihak penginapan Ora Beach Resort pukul 07.00. Dengan perjalanan sekitar 1 setengah jam, kami diantarkan ke pelabuhan Tulehu. Dari pelabuhan ini, kami pun sudah dibelikan tiket VIP untuk naik ke kapal Express Pricillia menuju pelabuhan Amahai di Pulau Seram (Maluku). Kapal berangkat pukul 09.00 dan perjalanan laut ini menempuh waktu sekitar 2 jam.


Setiba kami di Pelabuhan Amahai, kami pun sudah dijemput oleh supir lain yang akan mengantar kami ke desa Saleman. Tetapi karena hari sudah menunjukkan waktunya makan siang, kami mampir untuk makan dulu di salah satu restoran yang ada di sana (Julie Seafood). Kemudian baru melanjutkan perjalanan. Area perjalanan kami, meliputi perjalanan seperti ke puncak, terjal, berliku-liku, dan ada di tengah hutan. Kami sangat menikmati perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam ini. Supir kami memberentikan mobilnya di sebuah pelabuhan kecil di Desa Saleman. Disana sudah tersedia boat-boat yang akan mengantar kami ke Pulau Ora. Perjalanan dengan speed boat, kami tempuh dalam waktu 5 menit.




Melihat Pulau Ora dari kejauhan, hati saya melonjak kegirangan. Pemandangan alam yang sungguh indah, membuat saya berulang kali berkata dalam hati, "Terima kasih, Tuhan kalau masih ada kesempatan ke sini".

Kami langsung disambut welcome drink dan penyerahan kunci kamar dari pihak receptionis hotel ketika tiba di Ora beach resort, satu-satunya resort di Pulau Ora, tempat kami menginap.
Kami pesan kamar laut dan kami mendapatkan kamar nomor 106 (kamar ke 2 dari ujung). Segera kami bergegas ke kamar, melewati jembatan yang dibangun di atas laut. Rasanya sungguh menyenangkan.







Setiba di kamar, saya banyak menghabiskan waktu di teras. Karena bagian teras dari kamar laut kami, langsung berhadapan dengan laut. Saya sungguh bersyukur bisa tiba di tempat ini dan merasakan semua ini. Pada bagian teras, ketika kami menghadap ke bawah, di dalam laut pun terlihat karang karang dan biota laut yang hidup di bawah.






Kami cukup betah di kamar, sampai tiba saatnya untuk makan malam. Kami pergi menuju restoran apung karena pihak Ora beach resort sudah menyediakan makan malam disana. Setelah makan malam, kami kembali ke kamar, bersantai di teras, kemudian beristirahat.

Hari ke-4
Memasuki hari ke 2 di pulau Ora, air laut di pagi ini sangat surut. Kami mengawali dengan makan pagi di restoran, kemudian bersiap untuk snorkling. Pagi ini, pukul 09.00, kami sudah ditunggu oleh Bapak speed boat yang kemarin mengantarkan kami ke Ora beach resort. Pukul 09.00 pagi, kami memulai tour kami dengan speed boat ke tebing batu. Seperti namanya, tebing batu adalah tempat wisata dimana kami bisa melihat tebing batu yang super besar dan menawan. Kami snorkling di tebing batu ini (alat snorkling kami pinjam dari pihak penginapan dengan membayar sewa sebesar 100.000/orang). Dari tebing batu, kami diantar ke pesisir pantai di dekat Ora beach resort. Di sana kami juga snorkling. Kemudian kami diantar ke Mata Air Belanda.





Di Mata Air Belanda, kami dapat melihat air yang terus mengalir dari tengah hutan, menuju ke laut. Air ini sangat dingin. Tapi sangat jernih dan segar. Saya pun tak tahan untuk mencoba mandi disana. Pemandangan di Mata Air Belanda ini pun sangat indah. Hamparan pantai, hutan, dan gunung yang menjadi satu kesatuan. Kami memesan teh hangat dan indomie, di satu-satunya warung yang ada disana. Nikmat.











Kami ada di Mata air Belanda ini sampai kira-kira waktu makan siang pukul 12.00. Karena saat makan siang ini, kami kembali ke Ora Beach Resort untuk makan siang. Setelah makan siang, kami mandi dan beristirahat sebentar. Menjelang sore hari, kami keluar untuk bermain di bagian pantai. Tadinya kami berencana untuk snorkeling di sekitar pantai, tapi ternyata sore hari ini, ombak air laut di bagian tengah laut sedang kencang dan membuat airnya menjadi keruh, jadi kami tak bisa snorkling. Ya sudah, kami menghabiskan waktu dengan bermain air di bagian pantai.

Saya senang ketika mengambang di laut. Seketika saya merasa sungguh kaya, bisa berenang di kolam seluas laut, dan ketika mengambang, saya melihat pemandangan gunung di sekeliling pantai. Sungguh terharu. Sungguh bersyukur diberi tanah air seindah ini. Tak salah punya cita-cita berbulan madu di pulau cantik Indonesia. Walaupun harga perjalanan ini mungkin setara keluar negeri, tapi kebahagiaan yang didapat jauh lebih besar.


Semakin sore, ombak di dekat penginapan kami (bukan di bagian pantai nya) semakin besar. Air laut pun meninggi cukup drastis dibandingkan pagi harinya. Ada kabar pula bahwa air laut masuk ke kamar sebelah kami. Cukup deg-degan, di pikiran saya, ombak air laut akan semakin besar dan menyeret penginapan kami. Tapi semakin malam, setelah kami makan malam, sepertinya air laut sudah agak menyurut sedikit. Pihak hotel membebaskan kami, jika ingin pindah kamar ke kamar darat (bukan di kamar laut), tapi Okta bilang, inilah sensasinya tinggal di kamar laut. Merasakan dan mendengar dengan jelas setiap deburan ombak yang mengenai tiang-tiang penginapan kami, dan menabrak tebing tepat di belakang penginapan kami. Alhasil kami menghabiskan waktu di teras lagi, kemudian beristirahat. Untungnya tak ada hal buruk yang terjadi.

Hari ke-5
Pagi ini, air laut sangat surut kembali. Tenang. Sungguh berbeda dengan air laut yang kemarin malam. Jadwal pagi ini adalaha kami sarapan di restoran, kemudian balik dengan speed boat ke Desa Saleman, dari sana akan dijemput kembali ke Pelabuhan Amahai, dan naik kapal lagi ke Pelabuhan Tulehu, serta diantarkan kembali ke hotel kami di Ambon. Kami kembali memilih Hotel Amaris.



Perjalanan dari Ora beach resort kembali ke hotel Amaris memakan waktu sekitar satu hari, kami tiba di hotel Amaris sudah sore. Setelah mandi dan beristirahat, kami jalan-jalan ke sekitar hotel. Okta membeli nasi dengan lauk daging anjing (yang katanya lezat) sebagai makan malam. Sedangkan saya masih merasa kekenyangan akibat makan siang di Pulau Seram pada siang harinya.

Hari ke-6
Hari ini kami kembali ke Jakarta. Kami dijemput Bapak supir yang sama seperti hari pertama kami, pukul 11.00, kemudian kami ke tempat oleh-oleh sebentar, lalu langsung ke Bandara. Agak kepagian, kami mencari restoran di dalam bandara untuk makan siang, kemudian menunggu sampai waktunya agak mendekati jam penerbangan, kemudian kami menuju ke gate penerbangan. Kami kembali ke Jakarta dengan pesawat Garuda Airlines juga. Di Jakarta, kami dijemput oleh keluarga saya.

Bulan madu yang sangat indah. Sederhana, kembali ke alam. Tapi memberikan rasa bahagia yang maksimal kepada kami.

Bersyukur untuk setiap keindahan yang pada akhirnya jadi kenangan manis.
Terlalu menawan.
Terlalu memikat hati.

#OktangelLoventure





Catatan tambahan : Kalau ada teman-teman yang mau berlibur ke Pulau Ora, bisa menghubungi saya jika butuh bantuan informasi, dengan senang hati saya akan membantu :)

24 December 2016

Keajaiban?

Banyak hal dalam pernikahan saya yang terjadi seperti kebetulan, tapi kok saya percaya ini semua bukan kebetulan, karena terlalu ajaib, dan seperti ada tangan yang menuntun saya. Sampai saya gak bisa bilang apa-apa lagi selain, terima kasih Tuhan untuk anugerahnya.

1. Saat lamaran, adik saya yang sekolah di Korea mau pulang ke Indonesia, dia ngerasa sayang karena pulangnya cuma 1 minggu di Jakarta, tapi mama bilang gapapa, pulang aja. Beberapa hari setelah dia beli tiket buat ke Jakarta, dia dapet beasiswa apa gitu dari Professor nya, yang intinya seharga tiket pesawat, jadi semacem bisa gantiin uangnya yang keluar untuk beli tiket.

2. Pas saya mau bikinin adik saya baju untuk dia pake pas hari H, mama saya agak khawatir tentang fitting dll nya, secara adik saya ini ada di Korea, dan bakal pulang ke Jakarta cuma pas deket-deket hari H saya. Secara kebetulan, temen saya yang bikin gaun untuk adik saya, memang ada rencana liburan ke Korea, jadi gaun adik saya bisa dibawa ke Korea dan dia bisa fitting disana.

3. Pas lagi cari-cari sepatu untuk hari H, saya mulai ngerasa cape keliling-keliling toko dan berdoa supaya cepet ketemu sepatu yang sesuai. Terus kita masuk ke satu toko sepatu dan disana ada yang saya suka. Saya berencana beli sepatu itu, ternyata pas bayar, sepatu itu lagi diskon 50% dari harga normal. Seneng banget, udah suka banget sama sepatunya, dikasi hadiah 50% juga sama Tuhan.

4. Pas mau kirim-kirim undangan ke temen-temen, saya udah tanya-tanyain alamat mereka, tapi agak bingung gimana kirim undangannya, apa mending pakai kurir atau JNE, dan ternyata di hari saya mau kirim undangannya, JNE lagi hari bebas ongkos kirim. Betapa beruntungnya saya, bisa kirim undangan pakai JNE yang kilat, dan gratis semua, sekitar 40 - 50 undangan.

Masih banyak keajaiban-keajaiban lain yang bikin saya ngerasa begitu disayang Tuhan. :')

Persiapan Pernikahan

Setelah sekian lama ada di angan-angan,
kali ini saya beneran niatin untuk nulis persiapan wedding saya kemarin.

Jadi gini,
dari beberapa tahun yang lalu,
saya sama (mantan) pacar udah mulai ngomongin,
kita mau nikah "dua tahun lagi",
yang seringkali terus mundur "dua tahun lagi" (saya pernah tulis disini)
sampai akhirnya mentok lah di tahun 2016 ini.

Dari awal tahun udah ada omongan 'tahun ini',
tapi belum serius banget kita rencanainnya.
Baru dimulai bulan April, kita ikut bina pranikah yang diadain sama gereja.
Trus itu juga kita gak ngapa-ngapain lagi sampe bulan Agustus.

Tanggal 11 Agustus,
di saat kita ngerayain 10 tahun 11 bulanan,
Okta ngomong ke papa mama saya,
kalo dia minta ijin mau menikah sama saya.
Darisanalah kita mulai persiapan.

Pertama kali, kita cari tanggal.
Cari tanggal ini juga gak ribet-ribet amat,
kita cuma cek di gereja, yang kosong di bulan Desember itu ada tanggal berapa aja,
terus disesuain sama waktu nya adik saya yang sekolah di Korea bisa balik ke Jakarta.
Ketemu lah tanggal 10 Desember, oke, fix. :D

Lanjut, karena dari awal kita udah tau banget kalo kita mau yang sederhana,
tanpa resepsi, cuma pemberkatan & acara keluarga
jadi kita langsung cari restoran untuk acara keluarga nya.
(Tentang pernikahan sederhana ini juga pernah saya tulis disini)
Setelah telp-telp & survey ke beberapa restoran,
kita akhirnya sreg untuk di Restoran Central yang di Tomang,
Saya senang karena disini, kita dapet ruangan yang menurut saya eksklusif,
jadi bener-bener pas untuk acara keluarga yang intim.

Oh ya, ada salah satu cita-cita saya, ini langsung saya kutip dari daftar impian saya :
"55. Ajak temen-temen untuk kolaborasi di pesta nikah"
dan, ini yang bener-bener kita lakuin di pernikahan kita.
Saya merasa punya banyak temen-temen hebat disekitar saya, tapi kurang terekspos,
Karena itulah, saya bener-bener mau kenalin temen-temen saya ke orang lain.
Makanya saya pun cetak logo mereka di undangan saya.
Gak lazim gitu sih, beberapa orang nyangkanya itu sponsor,
tapi ya udalah ya, tersertah juga mau nyangka apa,
yang jelas, saya bangga masukin logo mereka di undangan saya.
Senang karena pada akhirnya, mimpi saya satu lagi tercapai.
Punya pesta pernikahan, hasil kolaborasi temen-temen yang hebat.
Saya bekal ceritain satu-persatu dibawah.

Pertama tentang jas,
Untuk jas ini, saya punya ex-boss yang baik banget,
dan kualitas bikin jas nya udah gak diraguin lagi.
Bisa di cek di gerai nya di Galleries Lafayette, Philip 1991.
Saya pernah berpikir kalo Pak Philip ini,
suatu saat pasti akan mendunia,
karena kemampuan buat jas nya udah kaya orang luar negeri gitu.
Ini hasilnya, super puas, Okta berubah jadi super ganteng :D
Terus ada temen yang ngerti fashion, bilang kalo jas nya okta "perfect fit banget",
ya iyalah :P

Jas nya Okta dari Philip 1991
Semua jas adik, om, papa, dan Okta, kita percayain sama Philip 1991
dan hasilnya super duper puas! :D

Kedua, tentang gaun,
Gaun pernikahan saya, saya percayain ke temen SMP & SMA saya,
namanya Irene, bisa dilihat di instagramnya @jahitangan.
Memang dia belum pernah bikin gaun wedding sebelumnya, baru sampe bikin baju untuk mama nya, pas nikahan dia.
Tapi ngeliat detail yang dia buat di baju mamanya, saya jadi tertarik.
Tadinya saya contact dia untuk serahin gaun saya, mama, & adik untuk dia yang bikin semua,
tapi ternyata dia bilang gak keburu untuk bikin gaun mama, jadi cuma baju saya dan adik-adik.

Beberapa temen saya bilang, saya berani banget karena percayain ke temen saya yang baru mulai bikin baju, tapi buat saya, saya bener-bener percaya dia bisa bikin yang bagus.
anyway, saya gak gampang percaya orang lain, tapi kalo saya percaya, saya bakal percaya abis-abisan.
Dan saya ngerasa beruntung juga. Tadinya mama saya sempet bingung, gimana kalo ade saya yang di Korea bikin baju, nanti fittingnya gimana, gitu2 deh. Secara dia bakal balik ke Indo lagi nya udah deket2 hari H saya. Terus kaya udah bener-bener diatur Tuhan gitu, kalo Irene (si penjahit gaunnya) punya rencana ke korea. jadi adik saya yang di Korea, bisa fitting di Korea untuk gaunnya.
Kebetulan?
Saya rasa nggak, saya ngerasa kalo saya udah diarahin.

Oh ya, detik-detik menjelang hari H, ternyata adiknya Okta (Dewi) juga hamil, dan badannya bertambah besar, untungnya Irene bisa gedein lagi bajunya Dewi jadi muat n bagus.

Super suka semuanya, puas sama hasilnya.
Irene bisa bikin gaun yang bener-bener saya mau. Simple tapi bagus, ngga ribet kalo jalan. :D




Ketiga, untuk fendor Foto & Video.
Saya percayain foto hari H & foro prewed saya ke temen kuliah saya, Billy Djokosetio,
dia sekarang punya semacem jasa foto profesional, bisa dilihat di IG nya @motiopictures.
Saya Suka banget sama etos kerja Billy & tim,
selalu dateng sebelum waktunya,
prepare banget & bisa capture apa yang saya mau.

Untuk video, tadinya saya sama (mantan) pacar, gak mau pake video,
karena si (mantan) pacar, gak terlalu suka di foto, dan kalo pake video, nanti saya juga yang males untuk ingetin si pacar buat senyum, haha.
Lagian kita agak zonk juga kayanya kalo harus di foto / di videoin dengan settingan gitu,
yang ada jadi berasa fake banget, jadi kita milih untuk foto aja.
Tapi karena di gereja, saya ikut pelayanan di Rhemata Production,
jadi tim Rhemata katanya mau kasi apresiasi untuk pelayanan di hari H saya.
Ya udah akhirnya di gereja ada 2 video dari Rhemata Production.

Oh ya, saya cerita sedikit, untuk prewed, tadinya saya mau diluar kota,
udah mikir kaya semacem di Bandung atau di Bali,
tapi si Okta bilang, mending di Jakarta aja,
karena kita orang Jakarta, harusnya bangga sama Jakarta ini.
Hmm, bener juga, jadi lah kita coba untuk di monas & balaikota.
Pertama kali denger kata Monas, saya udah lumayan males gitu,
kebayang Monas yang rame dan berantakan.
Tapi Okta bilang, mending kita survey dulu.
Ya udah kita survey, dan ternyata image Monas yang berantakan, udah ilang donk.
Monas sekarang udah keren guys!
Jadilah kita foto prewed di Monas & Balaikota.

* Behind the Scene, tanggal 22 Oktober, pas kita foto prewed, ternyata di Monas lagi ada Hari Santri Nasional. Monas rame banget, tapi untung Billy & team tetep bisa ambil angle yang bagus! Dan bersyukur banget hari itu cerah, padahal hari sebelumnya dan paginya ujan deras. Hujannya baru deras, pas kita udah ganti tempat ke Balaikota :') Betapa saya ngerasa dilindungin Tuhan!







Keempat,
Untuk desain - desain & temen yang bantu WO di hari H,
saya percaya banget sama temen sepelayanan saya, Ci Sally, yang punya IG @little.fairy_planner,
terus cetak undangannya sama Ko Ivan, yang punya Monica Printers.
(Bisa contact saya kalo mau contact vendor-vendor ini ya)
Saya senenng banget karena Ci Sally bisa bener-bener terjemahin desain seperti apa yang saya mau,
jadi desain undangan yang unik & Ci Sally juga bantu saya sampai detail, kaya desain buku tamu, desain nomor meja makan, dll. Ngerasa kebantu juga pas hari H acara, semua beres, aman terkendali.
Super love!



Kelima, untuk makeup,
Make up artist saya ini rahasia, temen lumayan deket sama Okta.
Saya percaya sama dia walaupun saya belom pernah tau dia seperti apa,
tapi saya sering denger tentang dia, dan tempat kerjanya yang super mahal itu.
Saya gak pake test make up, dan karena ini, beberapa temen saya ngoceh-ngoceh ke saya,
"Lu sih gila njel, masa gak pake test make up!"
Wkwkwkw saya cuma ketawa, saya bilang, liat aja nanti hari H gimana hasilnya.
Dan saya seneng, pas hari H, yang ngomel itu, pada bilang make upnya bagus :D
Saya pun suka, karena gak keliatan tebel. Natural, tapi flawless & bagus!
Thanks a lot to my secret MUA :3



Keenam, Bouquet bunga & corsage,
Ini saya percayain ke temen SMA saya,
temen yang lumayan deket & hobbynya ngerangkai bunga, namanya Flora
bisa dilihat di IG nya @floratjhong :)



Ketujuh, Mobil pengantin
Mobil pengantin ini, kita pakai mobil temen baiknya Okta,
dan sehari sebelum hari H, Okta sama temen-temennya hias sendiri mobil ini sampai jam 1 maleman kira-kira :D




Kedelapan, kue pengantin
Mungkin gak ada penganten yang seribet kita, nyiapin pernikahan sampe ke kue pengantennya, kita mau siapin sendiri.
Alhasil kita keluar masuk toko kue buat cari pernak pernik buat kue & pita nya,
cari referensi nya di internet, & akhirnya nyerahin semua pernak perniknya ke tante saya yang jago bikin kue buat dihias.

Kue nya jadi bener-bener kaya yang kita pengen!


Apalagi yaaa, kayanya ini udah semua deh. Berasa ribet pas nyiapinnya, apalagi saya orang yang perfeksionis, maunya sempurna terus. wkwkkw. Tapi pada akhirnya seneng banget ngeliat semuanya sesuai sama yang kita mau! :D