22 July 2016

Tentang Sampul.

Beberapa kali ada teman yang menyarankan agar saya menggunakan make up setiap hari
serta mengubah gaya berpakaian mengikuti model yang sedang menjadi trend saat ini.
Untuk menghargai diri sendiri katanya.

Saya seringkali hanya menatap dan tersenyum.

------------------------

Mungkin kita menghargai diri sendiri dengan cara yang berbeda, kawan.
Saya menghargai diri saya apa adanya,
yang tanpa make up,
yang suka pakai baju apapun yang saya rasa nyaman,
tanpa harus merasa risih karena menggunakan baju minim atau terbuka.

Ketidakmengertian kamu, tentang kenapa saya bisa santai dengan tanpa make up dan tanpa baju kekinian,
mungkin sepadan dengan ketidakmengertian saya,
tentang kenapa goresan pensil alis yang salah atau rambut yang tidak keburu kamu blow itu,
bisa merusak seluruh harimu.

Otak saya agaknya tak cukup mampu untuk menalar,
mengapa make up dan baju kekinian bisa dihubungkan dengan menghargai diri sendiri,
kalau ternyata tanpa itu semua,
kamu jadi merasa jelek dan kehilangan kepercayaan diri.

Sesungguhnya bagi saya yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati dan kepala,
bukan apa yang dipakai.

Maka terlalu banyak ketidakmengertian yang saya pilih tak diutarakan,
saya menghargai perbedaan itu dan pemikiranmu,
karenanya saya hanya tersenyum, tak ingin memperpanjangnya.

27 May 2016

Berbenah

Alangkah cepat kereta itu berjalan,
menghilangkan banyak kesempatan yang tak disadari.

Teralu individualis.
berjalan dengan cepatnya,
tanpa menoleh.

Ketika sadar,
tangannya menggapai,
tapi jarak sudah begitu jauh.

Tuan, Tuan, masihkah ada harapan untuk saya?

Semangat!

Di satu titik,
berhenti memikirkan diri sendiri.
karena terlalu egois,
membawa pada harapan kosong
yang akhirnya mengecewakan.

merendah,
mungkin tak banyak yang dapat dilakukan,
tapi kamu bisa tetap berkarya dan terus berbagi.

21 May 2016

Ngeri

Saya bergidik di ujung ruangan,
Semua jadi begitu menakutkan.

Betapa seseorang bisa begitu munafik,
penuh dengan pencitraan dan basa basi.

Saya menyingkir ke ujung ruangan,
ngeri
dan
sungguh muak,
terlalu banyak manusia palsu.

Saya resah,
Bagaimana mungkin, hanya dalam hitungan detik,
wajah-wajah mereka bisa berubah-ubah,
sebentar merpati, sebentar ular.

Sungguh.
mungkin hanya saya yang sudah mulai gila.
karena mereka tampaknya sudah terbiasa.

24 April 2016

Maukah kamu membantuku?

Suara kicauan burung yang merdu membangunkanku di pagi itu,
Mataku terbuka perlahan.
Tubuhku tergeletak di sebuah hamparan rumput luas beratapkan langit.

Ada damai yang menyesap dengan cepat, seiring udara segar yang kuhirup.
Sungguh, peristiwa menarik napas, yang biasanya kulakukan tanpa sadar,
kini ku resapi dengan lambat.
Satu tarikan napas dapat membawa nikmat yang begitu besar.

Aku duduk bersila,
Kupandangi sekeliling dengan seksama
Mataku menangkap bunga-bunga, kupu-kupu, serta burung-burung yang berterbangan di sekitarku.
Pemandangan yang sungguh sangat langka,
mengingat keseharianku yang berada di kota besar yang bising, sesak, dan selalu penuh polusi.

Wajahku mendekat pada bunga disebelahku,
Begitu indah dan harum. 
Ada di tempat ini sungguh membawa kebahagiaan besar untukku.

Tapi rasa bahagia itu tak berlangsung lama,
tiba-tiba saja ada bunyi mengganggu yang kencang sekali, seperti alarm kebakaran,
dan yang kulihat menjadi begitu kacau.
Alamku terbakar, dimana-mana merah menyala,
aku berteriak ketakutan, 
berlari kesana kemari, mencari sumber air untuk memadamkan api yang tiba-tiba besar itu,
belum sempat kutemukan sumber air itu, tiba-tiba semua sudah habis terbakar.
Aku jatuh lemas dan menangis. 
Perasaan tak berdaya menyelimuti.

Dalam waktu yang sangat singkat pula, 
ada banyak orang berdatangan di tempatku,
Kupikir, aku bisa meminta bantuan mereka untuk mengembalikan alamku yang rusak,
tapi sekeras apapun aku berbicara, mereka seperti tak mendengar, bahkan tak merasakan kehadiranku.

Ternyata orang-orang itu datang, untuk berebut lahan.
Mereka berlomba-lomba menggunakan lahan itu untuk kepentingannya.

Dalam sekejap mata, 
bangunan-bangunan tinggi memenuhi tempat itu.
Penuh sesak.
Tak ada lagi ruang kosong,
tak ada lagi pepohonan,
tak ada lagi bunga-bunga indah,
tak ada lagi kupu-kupu yang memukau,
tak ada lagi burung-burung bersuara merdu.

TIDAAAKK!
Aku berteriak berulang kali dan menangis.

Bunyi bising alarm kembali memekakkan telinga.
Dan kali ini aku terkejut, mendapati diriku tersadar dengan alarm handphone yang sedari tadi berusaha membangunkanku.

Aku mengusap wajahku dan menarik nafas panjang.
Ternyata aku hanya bermimpi.
Kulirik jam dinding di kamarku,
menunjukkan pukul 06.20 WIB.
aku terlambat bangun 20 menit!
Segera aku bergegas untuk ke kantor.
Kembali pada realita, berlomba-lomba di jalan-raya dan tenggelam dalam pekerjaan di gedung kantor yang tinggi. 

Semua nampak berjalan seperti biasa,
Tapi mimpi itu telah mengubahku.
Mimpi itu menyadarkanku akan kebahagiaan dan kedamaian yang begitu besar ketika kita bisa dekat dengan alam.

Aku memang tak dapat melakukan hal besar,
Seperti begitu saja mengubah seluruh gedung-gedung tinggi menjadi hamparan rumput luas dengan tanaman yang indah,
Tapi aku berjanji akan melakukan semampuku untuk mengembalikan kebahagiaan yang tak terkira itu.

Kini, aku menjadi penggiat tanaman.
Aku menanam pohon di rumahku dan mengajak teman-teman lain untuk juga menanam pohon di rumah mereka. 
Minimal satu orang satu pohon, dan meminta mereka untuk meneruskan ajakan tersebut.

Aku berharap kota kita menjadi kota yang ramah lingkungan.
Setidaknya diantara gedung-gedung pencakar langit ini, 
masih ada ruang untuk pohon tumbuh dan burung-burung bernyanyi setiap pagi.

Maukah kamu membantuku?



NB : rasanya aku perlu cerita, beberapa hari yang lalu, dalam mimpi, aku bertemu dengan burung-burung yang pernah membangunkanku, mereka mengucapkan terima kasih untuk kalian yang masih peduli :)