26 November 2015

...

Pada suatu ketika,
kita pernah ada dalam suatu masa, 
dimana merasa tidak dihargai sama sekali.
Pencapaian sempurna yang dilakukan hampir selama 2 tahun,
dianggap sampah.

Lalu Tuhan yang baik menuntun kita pada orang baik,
yang sangat menghargai,
hingga seringkali kita menangis terharu,
karena kebaikan Tuhan terpancar dari orang baik.

Waktu terus berjalan.
Untuk segala sesuatu memang ada masanya,

Perpisahan memang jadi sesuatu yang berat,
merangkak keluar dari zona nyaman,
demi membanggakan dan membahagiakan.

Keputusan vital,
mengingat jalan terjal yang ada di depan.

Semoga kamu kuat, teman. :)

05 November 2015

Terima kasih, kamu.


Saya tahu kamu kecewa,
lalu jadi uring-uringan,
tapi terima kasih kalau masih mau bertahan.

Saya tahu ini sulit,
karena kita sama-sama buta arah,
tapi terima kasih kalau masih mau terus mencoba.

Saya tahu kamu sedih,
ada banyak waktu yang terbuang sia-sia,
tapi terima kasih untuk selalu percaya, bahwa besok akan lebih baik.

Saya tahu kamu hancur,
dengan janji dan harapan yang tak terpenuhi,
tapi terima kasih untuk masih tetap berharap.

Terima kasih, kamu.
tetap ada disini,
menemani saya dalam sunyinya malam,
mendamaikan pertentangan ini.

Terima kasih, kamu.
yang selalu percaya.

Kamu akan selalu baik-baik saja.
Saya akan pastikan itu :)

10 October 2015

Ia tak lagi konsisten.

Tulus suka membantu.
Bantuan yang tak kenal waktu,
tapi jadi sering dianggap hantu,
Karena Ia lebih percaya ratu,
yang berbicara jitu,
tapi tak bermutu.

Ketidakkonsistenan yang parah.
Membuat marah.
Ia salah kaprah.
Tak ingin membela diri, Tulus hanya ingin pasrah.
Semoga Ia kembali kepada fitrah.

Banyak yang mencaci,
Tulus harus ikut mencaci,
Tapi pembicaraan tak bermutu, itu yang paling dibenci.
Tulus pilih mengunci,
agar tak berisik seperti sendok yang dipukul ke pantat panci.
Banci.

Perjuangan tak harus digemborkan,
tak juga harus dilantangkan.
Cukup dirasakan.
Meski sifatnya membuat niat baik dibonsaikan.

Ia memang tak lagi konsisten,
maka si tulus mulai menghindar.

Peduli?

Detik-detik menyedihkan.

Dikiranya akan menjawab,
tapi malah pergi.

Nasihat seperti jadi kalimat tak bermakna,
karena tak sungguh mendengar.

Lalu untuk apa didengar?

Memang terlalu sedikit manusia yang sungguh peduli.

05 October 2015

Kematian.

Saya mengenal kata ini,
pertama kali ketika harus kehilangan Opa dengan mendadak,
di usia yang masih berusia 8 tahun.

Saya belum begitu paham, 
apa artinya kehilangan,
yang saya tahu, saya tak bisa lagi bertemu Opa.
Padahal opa selalu memangku dan mengajari saya menggambar.

Pernah sekali waktu,
saya ingat betul, 
saya pernah bangunkan opa dari tidur siangnya,
hanya untuk minta diajarkan menggambar capung.

Saya juga belum paham,
betapa sedihnya kehilangan.
Yang saya rasakan,
saya mau menangis, karena melihat ibu dan oma saya menangis.

Oma saya menangis deras di depan peti Opa,
terutama saat prosesi peti itu mau dimasukkan ke dalam tanah,
Oma meronta ingin ikut bersama jasad Opa.
Disana saya merasa sedih, sangat sedih.

Selebihnya, saya selalu melihat air mata di sudut mata Oma,
saat ia sedang duduk sendirian,
entah saat menonton TV atau merajut,
bahkan bertahun-tahun setelah kepergian Opa.

Seiring waktu,
Saya tahu kematian erat dengan kehilangan.
kata itu kemudian menjadi satu kata yang menakutkan.
Saya benci suasana duka, 
Saya benci kehilangan.

Saya menghindari ada di suasana duka,
saya menolak pelayanan apapun di bagian kedukaan,
batin saya sungguh tak suka.

Tapi tak dapat dielakkan,
Kematian memang akan selaku kita hadapi.
Seringkali saya jumpai kehilangan dari kerabat-kerabat saya.
Entah ayah atau ibunya, atau saudaranya yang pergi mendahului.

Sebenci apapun dengan suasana duka,
sebisa mungkin saya ingin hadir,
menemani sahabat saya melewati rasa kehilangan,
yang saya pikir sangat menyakitkan,
sampai membuat Oma saya menangis terus.

Hari ini beda.

Tiba-tiba ada kabar kalau sahabat saya meninggal.
Tentu saya tak percaya,
karena belum lama kita masih bertukar pesan.

Sibuk mencari tahu sana sini,
berharap semua itu hanya sebuah kekeliruan.
Tapi apa daya, ternyata kabar itu benar.

Seperti disambar petir. 

Saya disergap rasa kehilangan yang menyesakkan.

Kehilangan seorang sahabat yang peduli,
diantara sedikit teman yang benar-benar peduli.

Kehilangan seorang sahabat yang selalu benar-benar mendengarkan,
dan menenangkan saya untuk segala hal bodoh yang pernah saya takuti.

Kepergian sahabat saya jadi satu lagi pelajaran,
bahwa kita manusia,
yang tak kebal dari kematian.

Dalam hitungan detik,
saya bisa kehilangan orang yang disayang.

Saya menyesal karena tak sempat bertemu untuk terakhir kalinya.
Saya memaki diri sendiri,
yang menyia-nyiakan kesempatan untuk peduli,
untuk membahagiakan.

Padahal waktu terbatas,
dan ketika habis,
saya tak lagi punya kesempatan.

Hanya ada penyesalan yang selalu datang terlambat.