Teman,
di dunia yang munafik dan egois ini,
saya ingin kembali ke dasar hati.
Kembali ke titik awal,
dimana saya percaya bahwa masih ada orang yang benar-benar baik.
Saya tahu, kamu pasti tidak setuju,
karena banyak yang malah memanfaatkan kebaikan.
Karena itu kamu sering wanti-wanti agar saya tidak terlalu baik,
agar saya tidak terlalu percaya dengan orang lain.
Tapi saya merasa tak nyaman dengan prasangka buruk.
Susah bagi saya memungkiri hati.
Maka saya memutuskan akan tetap tulus dan tetap baik.
Biarlah orang baik, mendapatkan apa yang terbaik yang bisa saya kerjakan.
Perkara orang baik itu suatu saat akan berubah dan menjadi tak baik lagi,
saya tak tahu dan tak mau tahu untuk sekarang.
Mungkin kamu bilang saya bodoh.
Saya juga tidak mengerti.
Bagi saya inilah salah satu cara menghidupkan keyakinan yang selalu terngiang.
Masih ada orang yang benar-benar baik.
Saya ingin jadi bagian dari harapan itu.
Dimulai dari diri sendiri.
03 May 2015
22 April 2015
Sebuah perjalanan.
Banyak kali saya terdesak di ambang batas,
nalar menjalar mulai berhalusinasi,
memecah kepala dalam dua kubu yang tarik menarik,
keringat mengucur deras saat harus memilih menyerah atau bertahan.
Perfeksionis sejati.
Kata menyerah sebenarnya tak ada dalam kamus.
Saya yakin saya mampu,
tapi saya tak yakin ini benar jalannya,
lalu saya jadi ragu.
Bahwa selalu ada konsekuensi dari setiap tindakan,
saya sangat paham.
Karena itu hidup tak bisa ditentukan hanya dengan lemparan dadu.
Pikir saya, butuh waktu lama untuk menterjemahkan isi kepala,
bisa saja salah jalan.
Lalu untuk apa sempurna?
Tapi waktu membunuh,
ketika terbuang sia-sia.
Hari terus bergulir,
dengan hati lara yang merenggut sukacita.
Setan dalam diri mulai merendahkan.
Hingga saya bagai pecundang.
Merasa tak becus dan tak cakap.
Saya berteriak dan marah,
dan semakin rumit,
karena hanya sedikit yang mengerti,
bahwa musuh saya adalah diri sendiri.
Saya meradang di sudut ruangan,
ketika akal ini membawa saya pada kebuntuan.
Lalu tiba-tiba kita terlibat diskusi.
Semua hal yang pernah saya tahu,
kamu sebutkan ulang.
kamu reka ulang semua teori yang pernah saya dengar.
Pembicaraan yang tak terarah, lalu menajam.
Beruntung. Tepat sasaran.
Bukan bentuk takut akan masa depan,
tapi untuk apa ngegas pada jalan yang salah?
itu akar masalahnya.
Lantas saya robek-robek ia,
dan bakar.
Bahwa tidak ada yang salah,
itu yang harus saya ingat.
Karena sesungguhnya saya hanya belum yakin.
Keyakinan itu memang ada di level minus.
Siapa yang tahu akan masa depan,
sehingga bisa bilang salah dan benar?
Tapi kini saya yakin.
Hal baik akan selalu jadi magnet untuk hal baik.
Maka, berusahalah yang terbaik,
dengan yang kita miliki.
Ingatlah untuk terus maju, meski harus merangkak.
nalar menjalar mulai berhalusinasi,
memecah kepala dalam dua kubu yang tarik menarik,
keringat mengucur deras saat harus memilih menyerah atau bertahan.
Perfeksionis sejati.
Kata menyerah sebenarnya tak ada dalam kamus.
Saya yakin saya mampu,
tapi saya tak yakin ini benar jalannya,
lalu saya jadi ragu.
Bahwa selalu ada konsekuensi dari setiap tindakan,
saya sangat paham.
Karena itu hidup tak bisa ditentukan hanya dengan lemparan dadu.
Pikir saya, butuh waktu lama untuk menterjemahkan isi kepala,
bisa saja salah jalan.
Lalu untuk apa sempurna?
Tapi waktu membunuh,
ketika terbuang sia-sia.
Hari terus bergulir,
dengan hati lara yang merenggut sukacita.
Setan dalam diri mulai merendahkan.
Hingga saya bagai pecundang.
Merasa tak becus dan tak cakap.
Saya berteriak dan marah,
dan semakin rumit,
karena hanya sedikit yang mengerti,
bahwa musuh saya adalah diri sendiri.
Saya meradang di sudut ruangan,
ketika akal ini membawa saya pada kebuntuan.
Lalu tiba-tiba kita terlibat diskusi.
Semua hal yang pernah saya tahu,
kamu sebutkan ulang.
kamu reka ulang semua teori yang pernah saya dengar.
Pembicaraan yang tak terarah, lalu menajam.
Beruntung. Tepat sasaran.
Bukan bentuk takut akan masa depan,
tapi untuk apa ngegas pada jalan yang salah?
itu akar masalahnya.
Lantas saya robek-robek ia,
dan bakar.
Bahwa tidak ada yang salah,
itu yang harus saya ingat.
Karena sesungguhnya saya hanya belum yakin.
Keyakinan itu memang ada di level minus.
Siapa yang tahu akan masa depan,
sehingga bisa bilang salah dan benar?
Tapi kini saya yakin.
Hal baik akan selalu jadi magnet untuk hal baik.
Maka, berusahalah yang terbaik,
dengan yang kita miliki.
Ingatlah untuk terus maju, meski harus merangkak.
09 April 2015
.
Bintang berpendar dalam relung hati,
dan jantung mulai lagi berdenyut.
Jawaban itu ada dalam hati,
tak perlu dicari diantara kesesatan pikir,
hanya perlu dihidupi.
Show up, Decide, and Have Fun! :)
08 April 2015
Bercahayalah!
Bagai seekor ikan kecil dalam kolam,
Kita ada dalam sebuah alam,
yang memaksa kita menjadi seorang penyulam.
Kita ada dalam sebuah alam,
yang memaksa kita menjadi seorang penyulam.
Lantas matahari yang diharapkan, suatu saat akan tenggelam,
kemudian kita terjebak dalam kelam.
kemudian kita terjebak dalam kelam.
Tapi kita bisa pilih jadi bohlam,
yang bersinar di tengah gelap malam.
yang bersinar di tengah gelap malam.
:|
Tiba-tiba saya merasa bosan,
sampai hampir pingsan.
berusaha mencari pesan,
karena hidup harus berkesan,
atau nama hanya sekedar tulisan nisan.
sampai hampir pingsan.
berusaha mencari pesan,
karena hidup harus berkesan,
atau nama hanya sekedar tulisan nisan.
Subscribe to:
Posts (Atom)