25 December 2011

Tentang kepedulian

Beberapa waktu yang lalu,
teman saya, Katarina Siena,
iseng-iseng melihat garis tangan kanan saya.
Entah darimana "ilmu"nya itu ia dapatkan,
mungkin juga hanya sekedar iseng.

Sebenarnya saya tidak terlalu percaya dengan hal-hal semacam itu,
mendengarkan hanya sebatas iseng.
Setelah banyak hal yang ditebaknya tidak begitu saya ingat lagi,
ada satu hal yang masih tetap menggelayut di pikiran saya.
Saya ingat betul saat dia billang
"intuisi lo kok menipis njel?"
saya: "intuisi itu apa ya kat?"
Katarina : "Kepekaan sama sekeliling.."
Saya tersenyum.
Katarina : "Hayoloh.."

Haha, dia benar tentang kepekaan saya yang menipis,
atau mungkin lebih tepat jika dikatakan "sengaja saya tipiskan".

Terlalu peduli dan peka dengan sekeliling,
seringkali merepotkan,
membawa saya ke dalam suatu masalah,
dan tak jarang pula menyakiti.

Maka lebih baik saya kurangi kepedulian saya.

Jika pada waktu yang lampau,
saya bisa mengetahui kesedihan seseorang, tanpa perlu ditunjukkan,
saya bisa mengetahui masalah seseorang, tanpa perlu diceritakan,
saya bisa melihat perasaan seseorang hanya dari mata,
kini semua itu saya tinggalkan.

Kadang masih suka saya lihat kesedihan dan kesendirian di beberapa mata,
tapi saya mencoba untuk cuek,
saya mencoba untuk tidak terlalu peduli lagi,
saya mencoba untuk mengurus saja diri saya sendiri.

Karena saya benci menjadi orang yang peduli,
saya benci disakiti oleh orang-orang yang bahkan tidak peduli perasaan saya.

Photobucket

21 December 2011

Halaman Motto dan Persembahan Skripsi

Skripsi ini saya persembahkan untuk para pembaca yang mencintai sejarah.


Selalu saya tekankan pada diri sendiri,
bahwa yang terpenting dalam menjalani sesuatu
adalah bagaimana kita membentuk sejarah dan berproses,
bukan hasilnya.

Karena, semakin lama semakin terlihat,
bahwa "hasil" bisa direkayasa dan dibeli,
sedangkan proses dan sejarah selalu jujur
menggambarkan siapa diri kita
serta "hasil" seperti apa yang dapat kita capai,
meskipun hasilnya tidak selalu membanggakan.


Belajar dari sejarah,
berusaha melakukan proses yang maksimal,
ditambah dengan doa,
selalu saya yakini sebagai kunci kesuksesan.


Angelia Stephanie

20 December 2011

Munafik!

Selamat!
Munafik yang sempurna, teman..
Sangat sempurna malah..

Dari sini aku masih dapat melihat,
Senyum terpampang jelas.
Sayap itupun masih juga membawa kamu terbang,
tapi jauh dari semua hingar bingar ini,
kamu tak lebih hanya sampah.
SAMPAH!

Kamu selalu berkomentar tentang mereka,
mengeluh dengan apa yang mereka kerjakan,
bersikap seolah kamu yang selalu benar dan suci,
Lalu, sekarang apa bedanya kamu dengan mereka?

Oh ya,
aku mengerti,
tentu bedanya adalah kamu lebih hina,
karena kamu MUNAFIK!

Munafik yang kamu bungkus dengan sangat rapi, teman,
Hebat!
Sampai-sampai aku sampai tak lagi mengenali kamu.
Haha..

Tapi kamu harus tahu teman,
kebenaran itu suatu kali akan terungkap,
kamu tak bisa terus sembunyi!
Jangan lari, hadapi!
Toh semua ini salahmu.
Jangan lagi cari kambing hitam,
hadapi!

DASAR MUNAFIK!

Photobucket

15 December 2011

Saya selalu pilih yang salah.

si pendosa.
yang tak bisa tegar,
yang hina,
yang iri,
yang sombong,
yang bermuka dua.

Dan ya,
kamu hati-hati,
karena saya si pendosa,
yang mungkin akan mengelabui kamu.
Tuhan, aku cemburu,
tapi cinta harus membebaskan,
perasaan ini harus lepas.

dia ada di dalam,
dan aku mencoba mengerti.
dalam diam dan ringkihnya malam.

pikiran semakin memburu,
membawa aku jauh
dan semakin tak bisa kompromi.

Tuhan, aku ingin belajar,
bahwa cinta semakin berarti ketika ada kebebasan.
kebebasan yang sebebas-bebasnya,
seperti yang Kau beri padaku.
ajar aku mengerti,
ajar aku untuk menghargai setiap kebebasan
ajar aku untuk menghargai setiap kebebasan
dan tak selalu hanya mengeluh.

Photobucket